Showing posts with label jagatoko. Show all posts
Showing posts with label jagatoko. Show all posts

Hanger (gantungan baju)

 

Dua hari lalu, ada emak turki yg datang ke toko buat minta hanger.
"tuh, ambil aja di depan," pinta saya.
suka ada yg minta hanger dan saya suruh aja ambil sendiri. siapa yg suka minta? seperti tetangga sebelah, ada juga mahasiswa turki, santri indo. intinya bukan pemilik butik (toko baju).
di toko saya banyak hanger ga kepake karena turis-turis yg belanja di sini ga mau dikasih hanger. orang lokal ada yg mau ada yg engga. sedangkan hanger yg ada di toko kami tuh free dari produsen baju (setiap hanger ada merek bajunya). jadi ketika kami beli dress, tunik, rok, dan abaya, selalu dikasih hangernya (toko-toko lain juga begitu, dikasih free hanger oleh para produsennya). kami pun kasihin hanger-hanger itu ke customer kami yg membutuhkan. tapi banyak yg ga mau dikasih hanger juga termasuk para turis. jadinya banyak sisa hanger. makanya kalo ada yang minta, ya dikasih aja. terserah mau ngambil berapa. tapi paling juga max 10 biji.
kita balik ke emak turki yg minta hanger 2 hari lalu. dia ngambil hanger banyak banget. saya ga curiga kalo dia punya butik.
"ini saya ambil segini ya. ada plastik ga?" ucap si emak turki.
"iya gpp. tapi ga ada plastik," ucap saya.
pergilah si emak sambil berterima kasih dan bilang, "itu sisanya nanti saya minta juga ya."
trus saya liat kerdus hanger di luar. cuma sisa beberapa biji saja.
saya pikir mungkin ni emak punya baju banyak banget di rumahnya.
udah deh biarin aja. saya ga cerita ttg ini ke suami.
eh pas semalem suami cerita
"tadi ada bapak2 yg minta hanger. dia pemilik butik baru katanya. tapi ga saya kasih soalnya udah tinggal dikit lagi hangernya. ntar kalo kita butuh gimana?"
"kemaren ada emak2 ngambil hanger banyak banget." ucap saya.
"iya mungkin mereka suami istri. si bapak ini jg bilang kalo abla (saya) di toko ini ngasih," kata suami.
"ya, mana tau kalo si emak itu pemilik butik baru," ucap saya ga habis pikir.
duhhh si emak itu ternyata pemilik butik. kok ga malu ya minta-minta hanger ke toko lain.


Cobaan pagi

Barusan ada emak OT datang ke sini. wajahnya si seperti familiar. si emak juga nyapa ramah gitu dan sepertinya dia kenal saya. Dia bawa paper bag yang isinya rok.

"Saya beli rok ini di sini 2 tahun lalu," katanya sambil ngeluarin roknya. "Tapi ga pernah saya pake sekali pun. boleh ga ditukar dengan yang lain? atau bantu deh gimana caranya," tambah si emak.
whats?? 2 tahun yang lalu??
aduh ibu, itu beli rok 2 tahun yang lalu. kalo mau dituker kenapa harus nunggu sampe 2 tahun???
"ga bisa abla. udah 2 tahun lo. di toko manapun ga akan diterima kalo udah 2 tahun mah. meskipun belum pernah dipake," ucap saya tegas.
Ngomong ke ot harus tegas. jangan lembek. kalo kamu lembek, pasti bakal ditekan.

Nawar harga bikin baper

3 hari lalu datang turis sekeluarga (suami istri dan 2 anak). si istri mencoba dua tunik. Sebelum dicoba, si istri nanya harga dulu tapi belum menawar. Setelah dicoba, si suami nawarnya bikin saya bengong dan cenderung baper. tunik yang satu harganya 900, saya diskon jadi 800. tunik yang satu lagi harganya 750. belum sempat saya kasih diskon, si suami nawarnya "semuanya 1000 aja".
Tentu saja tidak saya kasih. terus dia nanya, "last price nya berapa?"
Saya bilang, semuanya bisa saya kasih 1400,
"udah deh 1200 aja semua," kata si suami.
keukeuh saya ga mau. "mendingan kalian lihat-lihat aja dulu ke toko lain". inilah cara saya mengusir secara halus. dan mereka pun pergi.
saya baper karena dia nawarnya kebangetan. tapi saya yakin, kalo dia bawa rezeki untuk saya, pasti dia balik lagi untuk membeli.
kemarin sore sepulangnya saya dari pasar, ternyata ada si istri sedang menunggu saya di depan toko.
akhirnya mereka jadi belanja 2 tunik. 1 tunik yang pernah dicobanya harga 750 dan 1 tunik lain yang harganya sama-sama 750. kali ini totalnya saya kasih diskon jadi 1200. dan dia menawar jadi 1100. ok lah saya kasih.
mereka ini orang afganistan yang tinggal di denmark. si suami bisa bahasa turki karena pernah tinggal di istanbul selama 5 tahun.
ternyata memang rezeki ga akan salah alamat


Fokus untuk menjual


Barusan ada abang turis rusia datang ke toko saya. Keliatannya si abang ini bingung. Si abang ngomong bahasa Rusia dengan sedikit bahasa tubuh yang menandakan kalau dia ingin membeli hijab. Langsung saya tunjukkan hijab yang ada. Karena dia nunjuk kepala saya, berarti saya tunjukkan hijab instan. Pas dia liat paketnya, ternyata bukan yang dicari. Terus saya tunjukkin kerudung segi empat, ternyata bukan juga. Terakhir saya tunjukkin pashmina. Dia nanya bagaimana cara makenya. Saya jadi model pashmina deh sebentaran hehe 😃 Kayaknya dia suka sama pashmina.
Terus dia nanya, "Bisa bahasa Rusia?"
"Sedikit," jawab saya.
Dia ngomong aja dalam bahasa Rusia. Kebanyakan saya ga ngerti yang diomonginnya. Tapi saya suruh aja dia milih warna pashmina yang ada di etalase. Saya fokus untuk menjual pashmina ini sama dia. Alhamdulillah bisa closing 5 pashmina pagi-pagi 🙂

Pemuda Sultan

 Barusan ada 3 turis cowo (anak muda) yang berbeda bangsa (dilihat dari warna kulitnya yg berbeda) datang ke sini. Yang berkulit putih masuk ke toko saya dengan maksud membeli hijab. Yang dua orang menunggu di luar.

Sekarang di toko saya tersedia pashmina dengan 6 material berbeda. Pertama saya tunjukkan yang berbahan sifon dan saya buka paketnya untuk ngasih lihat seberapa panjangnya. Di etalase tersisa 4 kerudung segiempat. Dia minta lihat yang berwarna ungu dan meminta saya menunjukkan cara makenya gimana. Tapi sepertinya dia kurang suka dengan kerudung segi empat ini. Dia juga minta pendapat temannya yang sedang di luar.
Setelah milih milih warna dan material pashmina yang ada, akhirnya pilihannya jatuh pada pashmina dengan bahan medine ipek berwarna ungu pastel. Tanpa menawar, dia memberi uang yang melebihi harganya. Ketika saya akan mengambil uang kembalian, eh... si turis ini ga mau dikasih kembalian.
"No change," katanya.
"Why?" tanya saya.
"Bismillah," jawabnya.
"Alhamdulillah," dalam hati saya. 😃

Salat dan Dress


Barusan ada sepasang turis dari Latvia belanja di toko saya. Sewaktu si cewe mencoba dress di fitting room, si cowo nanya-nanya saya tentang salat.
"Kamu muslim?"
"Yes."
"Ketika waktu salat datang, kamu salat?"
"Ya."
"Berapa kali dalam sehari salatnya?"
Ini lagi ngetes atau bener-bener nanya.
"5 times a day."
"Jam berapa aja salatnya?"
Saya sebutin jam-jam salat berdasarkan waktu sekarang (musim panas) aja.
"Kamu baca apa aja waktu salat. apakah ada nyanyian khusus?"
Aduh saya mulai lieur ngejelasinnya karena harus pake bahasa inggris. Saya bilang aja bahwa ada bacaan khusus yang telah dipelajari dan dibaca dalam hati waktu salat. tidak seperti menyanyi. trus saya peragakan beberapa gerakan salat. si turis pun mengangguk-ngangguk tanda mengerti.
"Berarti pas waktu salat kamu stop toko ini trus kamu salat?"
Saya agak bingung menjawab pertanyaan ini. Bingung juga ini percakapan mengarah ke mana.
"Kadang ada anak saya, jadi dia yang nunggu toko ketika saya salat."
"Kalo kamu kelewatan waktu salat gimana. kayak sekarang kan waktu salat jam 1?"
Saya jelaskan bahwa waktu salat tidak hanya saat itu. Misal salat zuhur ada rentang waktunya, yaitu hingga menjelang salat berikutnya. jadi saya bisa salat nanti pukul 1:30 atau pukul 2 atau pukul 3.
"Ohh, jadi seperti itu waktu salatnya. Berarti punya waktu, tidak takut terlewat." ucap si turis memahami waktu untuk salat.
Ini turis sekedar nanya karena ingin tau atau ada keinginan untuk masuk islam? entahlah, semoga saja Allah memberikan hidayah padanya.
Si cewe udah selesai mencoba 2 dress dan memutuskan untuk membeli dress pertama yang dicobanya.
"Ini toko pakaian tertutup pertama yang saya datangi. toko lain hanya menjual pakaian terbuka seperti bikini." ucap si cewe. "Pakaian di toko kamu bagus-bagus modelnya," tambahnya.
Setelah beres pembayaran, kami saling mengucapkan terima kasih. Dan si cewe mengungkapkan kebahagiaannya karena bisa memiliki long dress tertutup. "I am happy to have this dress."

Kamu Jangan Bekerja

Sebelum menikah, saya bekerja di KM HaKI İTB. Suami saya (pacar saya kala itu) tahu kalau saya bekerja. "Nanti kalau sudah menikah, kamu jangan bekerja. Kamu jadi ibu rt aja," katanya.

Setelah menikah, saya pun jadi ibu rt. Di rumah seharian. Saya sih asyik-asyik saja. Malahan enak di rumah, bisa santai, internetan bebas, dan juga bisa bebas berkarya. Saya sudah bertekad untuk memanfaatkan internet semaksimal mungkin, kalau bisa menghasilkan uang dari internet. Alhamdulillah kesampean.

Dulu, toko ini milik ayah mertua. Setiap Jumat saya datang ke toko dengan ibu mertua, tujuan ke pasar Jumat dan membantu bapak mertua kalau ada turis yang datang. Sejak saat itu saya sudah berhasil menjual baju pada turis yang datang ke toko.

Tahun 2006, bapak mertua buka cabang di tempat lain, dan toko ini mulai dikelola oleh suami. Dulu di toko kami ada pegawai. Penghasilan waktu itu lumayan, jadi bisa menggaji pegawai. Meskipun toko dikelola oleh suami, saya tetap ke toko hanya hari Jumat. Karena di toko ada pegawai. Lambat laun kami melepaskan pegawai dan tidak pernah merekrut lagi. Karena pegawai tidak bisa diharapkan. Lupa tahun berapa mulai tidak ada pegawai. Sejak saat itu, kalo suami ada perlu keluar, saya dipanggil untuk menggantikan jaga toko. 

Tahun 2011, kami jaga toko barengan. Saya pergi ke toko siangan. Masak dulu untuk bekal makan siang. Suatu hari jam 9 pagi suami nelepon, "Pengen pizza buat makan siang."

Gubrak, saya mau pergi ke toko jam 10. Dia nelepon jam 9 dan bilang pengen pizza. Emangnya saya pesulap???

Dengan kekuatan bulan, saya pun membuat pizza. Adonannya tidak didiamkan agar mengembang dulu, tapi langsung dicetak menjadi pizza. Dan... hasilnya tetap mengembang. Menunggu pizza matang, saya langsung siap-siap. Setelah siap berpakaian, pizza pun siap diangkat dari oven. Sampe di toko, suami lahap bener makan pizza. Ga inget nawarin saya yang buatnya ckckck

Tahun 2012, anak masuk TK. Saya tetap ke toko setelah urusan anak selesai. Kalau ada rapat wali kelas pun, saya yang hadir. Karena di sekolahan ini para ibu yang aktif, bapak-bapaknya jarang.

Tahun 2016, suami dapat kerja sesuai skillnya sebagai Sarjana Pertanian (tahun 2005-2007 pernah juga bekerja sebagai sarjana pertanian, karena gaji tidak memadai, jadinya berhenti). Hal ini membuat saya jadi full time di toko sendirian. 

Eehh katanya saya ga boleh bekerja dan tinggal di rumah saja jadi ibu rt. Ternyata keputusannya bisa berubah 180 derajat.



Turis Uzbek


Tadi ada hanut langganan bawa turis ke sini. Dua orang cowok, yang satu muda dan yang satu tua. Mungkin mereka bapak sama anak.
Nanyain abaya dan niqab. Saya tunjukkan abaya yang ada harganya 200 (last price). Kalo niqab ga ada dan saya kasih tau toko yang jual niqab.
Si bapak yang sepertinya pelit, nawar abaya jadi 50. Terus naik tawarannya jadi 70. Sama customer model gini, saya suka langsung pengen ngusir. Secara halus aja ngusirnya, "Liat aja ke toko lain, siapa tahu ada yang harga segitu."
Si anaknya nawar 150, ga saya kasih juga. Coz itu udah last price, dan saya juga harus ngasih komisi 10% ke hanut.
Mereka keluar dari toko saya. Si anak nanyain toko yang jual niqab itu. Saya kasih tahu kasarnya aja, plus nama tokonya. "Tanya aja di sana."
Mau nunjukkin tokonya juga susah, coz ada pasar jumat, jadi kehalangan.
Karena di luar sedang hujan, saya diem aja di pojokan sambil menghangatkan badan depan electric heater dan makan kuaci. Ehh tak lama kemudian, mereka datang lagi dan membeli abaya ukuran 54 untuk ibunya.
Dia (si anak) nunjukkin kalo dia udah beli abaya ukuran 44 harganya 200 juga. Berarti kan harga pasaran emang segitu, tapi kualitasnya beda-beda. Seperti yang dibelinya itu kainnya sedikit tebal, kalo untuk dipake musim panas bakal kepanasan. Sedangkan yang saya jual, kainnya tipis dan lembut, cocok untuk musim panas.
Alhamdulillah, kalo udah rezeki mah emang ga akan ke mana 



Bittersweet




Seorang ibu melihat lihat pardesu yang digantung di pintu, saya pun meninggalkan laptop dan menghampirinya.
Rupanya ibu ini pernah belanja di sini waktu musim panas yang baru lalu. Ibu ini orang Turki yang tinggal di Jerman. Di Alanya juga punya rumah.
"Saya waktu itu pernah datang ke sini, kamu masih ingat? apa kabar?" ucapnya.
"Baik," jawab saya.
Lalu ia pun masuk.
"Waktu itu saya beli beberapa baju, tapi kamu ga ada. Yang ada suami kamu," sambungnya.
"Iya suami saya bilang," ucap saya.
Si ibu melihat-lihat baju yang digantung di atas.
"Aduh saya pusing," ucap si ibu sambil memegang kepalanya.
"Sini duduk dulu," ucap saya sambil menyodorkan kursi.
"Saya punya vertigo, jadi kalo melihat ke atas lama itu suka pusing," ucapnya sambil duduk.
Kami jadi ngobrol asik ngalor ngidul. Cerita pengalamannya di tanah suci yang banyak bertemu jemaah Indonesia dan mendapatkan pertolongan dari salah satu jemaah Indonesia. Cerita tentang menantu cewenya yang keturunan irak-maroko. Nanya-nanya saya bagaimana adaptasi bahasa turki dan cerita lainnya.
"Waktu itu kamu bilang kalau baju yang saya coba kependekan (sedikit di atas mata kaki), kamu memang jujur. Dan kamu ga menyarankan untuk membelinya. Kalau di toko lain pasti ga akan peduli, Tapi karena kamu jujur, saya malah membelinya," ucapnya.
Hari ini si ibu ingin mencoba jeans dress.
Saya turunkan dressnya dari gantungan, lalu saya menyalakan lampu fitting room.
"Ini coklat hitam, pahit banget. Diemut aja, jangan dikunyah ya. Saya punya penyakit (apa lupa tadi), jadi saya selalu sedia ini di tas," katanya sambil memberikan coklat (yang ada di foto) pada saya.
"Terima kasih," ucap saya.
Si ibu mencoba dressnya dan ternyata pas. Si ibu pun membelinya. Si ibu ga mau dikasih kantong.
"Kantongnya ga usah, bajunya dimasukin ke tas saya aja. Biasanya saya bawa tas belanja, tapi tadi lupa. Lagian mau jalan kaki, repot bawa-bawa tas," katanya sambil memasukkan dress yang dibelinya ke tas selempangnya.
Sebelum keluar, si ibu nanyain apakah ada celana gombrang?
Saya tunjukkan celana jeans yang gombrang.
"Nanti insyaallah di lain hari, saya ingin mencobanya," ucap si ibu.
Saya antar ke luar dan sedikit ngobrol di luar.
"Sampai jumpa lagi," ucapnya sambil berlalu pergi.
Setelah si ibu pergi, saya duduk di pintu sambil menikmati coklat pemberian si ibu. Pahit banget coklatnya. Saya emut coklatnya sambil membayangkan yang manis-manis seperti gemblong misalnya.

*noted: kata temen, ini dark coklat 90%


Turis Pelit atau Ga Tau Harga?


Tadi ada sepasang turis pakistan yang tinggal di uk datang ke sini. Si istri mencoba ferace, pas di badannya. Harganya 150 TL.
"Wah mahal banget," katanya.
"Di uk bisa dapat murah ini harganya," tambahnya.
Saya kasih tahu kalau harga segini tuh normal di sini.
"Give us a good price, we'll take it," katanya lagi.
"Kalian nyari yang harga berapa?" tanya saya.
"Give us 40," katanya
"What? 40 lira for this?" tanya saya kaget. Karena mungkin dikiranya saya ngasih harga dalam poundsterling. jadi saya tegaskan kalau ini dalam lira.
"Yes 40 lira," katanya.
nawar 100 aja belum tentu dikasih, ini nawar ga kira kira. setengah harga aja ga ada tuh 40 lira.
istigfar, nyebut ya Allah nyebut. jangan sampai keluar kata kata kasar.
antara pengen ketawa dan berkata kata kasar. gila aja ini turis. mana ada abaya 40 lira. harga blus aja udah 50 lira. ckckck
Kalau bisa dapat harga murah di uk, ya beli di uk aja, ngapain belanja di turki.

Turis aneh


Kemarin (29 Okt) menjelang magrib, datang 2 cewe kakak adik orang Maroko yang tinggal di Belanda. Mereka membeli 3 pcs baju (2 suede pardus dan 1 winter longdress set) dengan total harga 500 lira. Kami bertransaksi sewaktu azan magrib.
Setelah itu, saya langsung ke mushola untuk salat magrib. Sepulangnya suami saya, 2 cewe itu datang lagi. "Kami ingin mengembalikan baju-baju ini dan kami ingin uang kami kembali. Karena uang kami habis," katanya.
Saya agak syok mendengarnya. Kami pun mengambil barangnya dan mengembalikan uangnya dengan perasaan aneh dan kesal. Tapi tak ada pilihan lain.
Entahlah, kenapa mereka melakukan ini. Kalaupun uang mereka habis, pasti sudah tahu sewaktu akan membayarnya. Mereka mengambil uang dari dompetnya. Terlihat donk masih ada uang atau tidak di dompetnya. Kalau uangnya habis, ya jangan jadi beli. Saya tidak memaksanya untuk membeli kok. Barang-barang yang dibeli juga atas pilihan sendiri. Mereka beli juga dengan harga diskon sesuai permintaan mereka. Itu berarti mereka sudah menghitung berapa uang yang dimiliki.
Ini seperti mempermainkan kami saja. Emangnya sedang main dagang-dagangan apa? Membeli sebentar, dan mengembalikannya kurang lebih setengah jam kemudian tanpa alasan yang kuat. Barangnya tidak rusak atau gimana gitu. Hanya bilang "uang kami habis". Sungguh aneh.
Tapi sudahlah, mungkin memang belum rezeki kami. Untungnya, mereka datang sendiri, alias tanpa hanut. Jika saja mereka datang dengan hanut, dan si hanut cepat datang untuk ngambil komisi, yang berarti 50 lira. Apakah pantas saya mengambil kembali komisi itu dari hanut?

I am back


Hari kamis yang baru lalu, datang turis rusia ke toko saya. Ia mencoba longdress dan menyukainya.
"Bolehkah kamu simpan dulu baju ini sampe besok?" tanyanya berharap.
"Boleh saja. Besok mau datang jam berapa?" tanya saya.
"Jam 4," jawabnya tak yakin.
"OK. saya simpan di belakang sampe jam 4 ya. kalo jam 4 kamu ga datang, saya gantung lagi di depan," jelas saya.
"OK," sambutnya sambil tersenyum.
Keesokan harinya (Jumat), dia ga datang, saya pun menggantung longdressnya di tempat semula.
Hari Sabtu, ketika saya mau pulang.
"Hi, I am back," ucap si turis rusia.
Saya pun urung pulang ke rumah, karena harus melayani turis ini dulu. Alhamdulillah dia jadi beli longdressnya plus tunik.
"Kamu bahasa inggrisnya bagus, jarang turis rusia yang bisa bahasa inggris," ucap suami saya.
"Saya guru bahasa inggris," ucap si turis rusia.
"oohhh pantes aja," ucap saya dan suami 
Kami ngobrol ngobrol bentar sambil si turis disuguhi turkish tea. Setelah menikmati segelas teh, si turis pamit pergi. Dan saya pun pulang ke rumah.

Disapa turis


"Ibuuu," sapa bapa turis pada saya yang sedang duduk di depan toko.
"Ini bapa turis siapa ya?" tanya saya dalam hati.
Saya melihat ke si bapa turis sambil mikir, terlihat ibu berwajah Indonesia berjalan di belakang si bapa.
Ohh ternyata ini pasangan indo-belanda customer saya yang datang summer tahun lalu.
Alhamdulillah mereka masih ingat saya. Mereka mampir untuk menyapa dan bertanya kabar. Mereka nyampe Alanya kemarin. Hari ini jalan jalan ke pasar jumat sekalian ketemu saya.

Kelilipan


"Abla kenapa? Sakit?" tanya hanut yang mengantar turis.
Tadi setelah waktu asar, saya baca baca memories status fb hari ini. 10 tahun yang lalu hari ini, ayah saya berpulang kepadaNya. Saya baca status saya tentang itu. Tak terasa air mata saya mengalir deras, sampai saya ga bisa membendungnya.
Tiba-tiba datang hanut membawa turis (2 muslimah) dari bosnia yang tinggal di swiss.
"Abla, ini saya bawa customer," ucapnya saat masuk ke toko.
Aduhh... ini mata saya gimana. "Ya, silakan," jawab saya sambil menunduk sambil ngelapin air mata pake tisu.
Si hanut ngeliat mata saya berair terus nanya, "abla kenapa? Sakit?"
"Engga, ini kelilipan," jawab saya sambil terus ngelapin air mata.
Setelah si turis beres belanja dan pergi, saya ke musola untuk salat asar.
Lanjut ke pasar bareng pegawe sebelah.
Pulang dari pasar, nongkrong depan toko. Si hanut datang untuk ngambil persenan. Eh, dia nanya lagi ada apa dengan mata saya. "Abla, tadi matanya kenapa. Sakit ga?"
"Engga kok, tadi kelilipan," jawab saya keukeuh.

Cowok Turki yang Tebar Pesona


Barusan ada turis norwegia belanja di sini. seorang ibu yang sudah berumur. setelah beres transaksi, kami mengobrol singkat tentang cowo turki yang tebar pesona di media sosial.
Beliau cerita bahwa ada lelaki turki yang tidak sopan padanya di facebook.
"Hello prenses (princess)!" sapa lelaki turki yang lebih muda darinya.
"I am not prenses. call me abla (mbak) because I am older than you," ucap beliau.
"Tapi kamu kan turis. saya ingin memanggilmu princess," ucap si cowok turki.
"Ya saya turis, tapi saya tidak mau kamu memanggil saya prenses," ucapnya lagi.
Dan kata beliau si cowo turki ini mengirim emoticon kiss seperti ini 😘
Turis norwegia ini merasa tidak dihormati dengan dipanggil prenses dan dikirimi emoticon 😘
Si cowok turki ini merasa pesonanya akan membuat turis kelepek kelepek. tapi rupanya pesonanya tak mempan untuk turis norwegia ini, malah dia kena damprat 😁
"Bye bye," ucap si cowo turki mengakhiri percakapan.
Tapi kalo nyapanya ke turkish hunter kayaknya bakal kelepek kelepek nih dipanggil prenses 😁

Turis sok tahu

Gini ceritanya...
Tadi ada turis bosnia 2 keluarga.
Yang masuk ke toko sih para istri. Dua duanya nyoba baju yang ingin dibeli. Saya kasih tahu harganya dan ok.
Istri 1, dia beli 4 pcs. Minta good prices. Saya kasih deh diskon lagi. Dan dia ok ok aja. Dia bayar sesuai harga yg saya kasih.
Istri 2, dia serahkan ke suaminya. Dan suami ini nawarnya kebangetan.
Si suami ini nawar abaya yg harganya 200 TL. Ok deh saya kasih jadi 180 yg berarti 30 euro. Dia ga mau harga segitu dan masih nawar. Eh trus dia bilang gini, "Saya akan beli di Armine saja."

"Armine kan mahal," ucap saya
"Engga kok, di sana banyak diskon," ucapnya.
"Kalo diskon itu yang model lama," ucap saya lagi. "Abaya ini model baru tahun ini," tambah saya sambil memegang abaya yang ditawarnya.

Ini turis bego atau gimana ya. Armine ini merek mahal di turki. Diskon 50% aja masih tetep mahal. Tapi si turis keukeuh bahwa di Armine lebih murah dari harga abaya di toko saya.
"Oh ok. Silakan aja pergi ke Armine," ucap saya.
Dia pun pergi keluar meninggalkan toko saya. Saat itu dia hanya membeli dress yg dicoba oleh istrinya.
Beberapa saat kemudian, dia datang lagi ke toko dan membeli 1 abaya dengan harga 30 euro.

Tadi waktu dia balik lagi dan beli abayanya, pengen saya ngomong kayak gini: "Gimana, murah-murah ya di Armine?" :D


Horang Kaya


Barusan seorang hanut membawa customer sepasang turis asing ke toko saya.
"Jangan kasih harga terlalu tinggi, mereka pasti beli banyak," kata si hanut.
Yah saya mah ke siapa pun juga ngasih harga biasa aja toh. Kalau customer bawaan hanut mestinya saya kasih harga lebih coz nanti kan saya harus ngasih si hanut 10%. Tapi ga masalah, yang penting berkah.
OK kembali ke customer yang ini.
Kelihatannya pasangan turis ini seperti orang biasa aja, tapi ternyata mereka horang kaya. Sembari memilih pakaian yang ingin dibelinya, saya tanya asalnya. "We are from UK," jawab si istri.
Karena melihat wajahnya yang seperti orang Asia, saya pun menanyakan originnya. "Pakistan," jawabnya
Setelah pilih pilih pilih, fix mau beli 3 longdress. Tanpa dicoba si istri pede mau membelinya. Saya sarankan untuk dicoba karena takutnya ga pas ukurannya.
Ia mencoba longdress yang warna navy. Ternyata kekecilan. Akhirnya dua longdress yang lainnya pun dicobanya. Yang satu kekecilan, yang satu pas. Saya berikan ukuran lebih besar untuk yang kekecilan.
Saya pikir cuma mau beli longdress saja. Eh mereka milih milih pasmina dan fix beli 6 pcs. Di etalase ada cowl hasil rajutan saya. Mereka pun tertarik dan beli 3 
Terus si suami yang royal, malah meminta si istri untuk memilih jaket summer. Jadi beli juga satu jaket.
Mereka nanya harga untuk sekedar tahu saja, untuk diconvert ke poundsterling. Tidak keluar permintaan discount dari mulut mereka. Tapi saya juga ga kebangetan ngasih harga. Semua harga yang dikasih, sudah harga discount.
Setelah beres bayar pake kartu debit dan saya membungkus semua yang dibelinya, eh mereka masih milih longdress lagi. Tambah lagi dech satu longdress warna hitam harganya 150. Untuk yang ini mereka bayar pake uang cash. Si istri mengeluarkan 100 dan suami 100. Berarti saya harus ngasih kembalian 50. Ketika saya ngasih kembalian ke si suami, "It's OK. Keep it," katanya.
Saya rada melongo mendengarnya. Ini 50 lira lho, bukan 5 atau 15 lira.
"But it's too big," ucap saya sambil menyodorkan uang 50 lira.
"No no, keep it," kata si suami keukeuh.
Ya sudah, alhamdulillah, ga boleh menolak rezeki 
Setelah kami saling berterima kasih, mereka pun pergi keluar dari toko saya dengan membawa 4 tas hasil borongannya. Alhamdulillah.

Afra


Adalah nama seorang gadis Afrika, tepatnya dari Eritrea. Dia bersama keluarganya datang ke toko saya pada 20 Agustus malam. Saat dia dan keluarganya datang, di toko saya sedang ada keluarga turis Mesir. Ternyata mereka sama-sama tinggal di Jerman. Mereka pun mengobrol dalam bahasa Jerman.
"Maaf, toilet di mana ya?" tanya dia saat saya mau menggesek kartu kredit si turis Mesir.
Saya memberitahunya untuk ke restoran di sebelah. Tapi sepertinya ia enggan untuk pergi ke sana sendirian. Saya pun tak bisa mengantarnya karena sedang membereskan pembayaran dulu.
Setelah beres, saya dekati dia, "Kamu mau ke toilet? Yuk saya antar."
"Oh, thank you," ucapnya sambil tersenyum dan mengikuti saya.
Kami mengobrol di perjalanan ke toilet. Saya menanyakan asalnya. Ternyata dia dari Eritrea, sebuah negara di Afrika. Saya bilang padanya bahwa saya dari Indonesia. Dia bertanya bagaimana saya tinggal di sini. Dan dia terkejut waktu saya bilang bahwa lelaki yang di toko adalah suami saya.
Sekembalinya dari toilet, dia sangat berterima kasih dan kami pun melanjutkan obrolan. Dia adalah anak kedua dari 5 bersaudara. Kakak perempuannya sudah menikah dan baru punya anak usia 10 bulan, jadi ga ikut liburan ke Alanya. Dia punya dua adik perempuan dan satu adik laki laki. Di toko saya, mereka membeli rok untuk kakak perempuannya.
Setelah beres transaksi, keluarganya sudah keluar. Sebelum keluar, ia memeluk saya dan berterima kasih.
"Thank you very much. You are very nice," ucapnya sambil memeluk. "What's your name?" tanyanya.
"Dian, and yours?"
"Afra, like Afrika," ucapnya sambil tersenyum dan bergegas keluar dari toko.

Allah smiling at me


"Do you speak english," tanya turis wanita (bule) berhijab yang masuk ke toko saya.
"Yes," jawab saya.
"Alhamdulillah akhirnya saya bertemu dengan orang yang bisa bahasa inggris," kata turis finland ini.
Kemudian ia menyebutkan apa yang ingin dibelinya.
Ia mencari abaya big size sesuai ukurannya. Saya turunkan abaya paling besar ukurannya. Ia mencobanya dan ia merasa sangat senang karena ukurannya pas untuknya.
"Allah smiling at me now," ucapnya bahagia.
"Saya senang menemukan toko ini karena saya bisa menemukan baju ukuran besar di sini," tambahnya.
Kemudian ia menanyakan rok. Saya pun menunjukkan 2 model berukuran paling besar dan ia memilih salah satunya.
Setelah beres transaksi, saya menawarinya minum teh. Lalu kami mengobrol sambil minum teh.
Kami ngobrol ngalor ngidul. Ia cerita bagaimana ia menjadi islam, cerita tentang keturunan mana saja, tentang suami pakistannya, tentang anak spesialnya, tentang kanker darah yang telah dilaluinya, dan banyak lagi.
Setelah beres minum teh, ia berpamitan dan berjanji kembali untuk membeli abaya, karena tadi ia hanya membeli rok.
"I must ask money to my sister and i will comeback this evening," katanya.
Tadi, saya sedang nongkrong depan toko, ia datang lagi. Kali ini bersama anaknya.
Sesuai janjinya ia kembali untuk membeli abaya plus dua tunik. Alhamdulillah.

Customer songong


Kemaren ada dua customer cewe datang barengan. Sepertinya mereka temenan, atau mungkin juga kerabatan. Cewe yang 1 kurus (sebut saja si K), dan yang satunya gemuk (sebut saja si G). Si G ini langganan saya. Kalau si K, baru kali ini datang ke toko saya. Mungkin dia ke sini juga diajakin oleh si G.
“Baju ini harganya berapa?” tanya si K sambil menunjuk baju A yang sedang saya gantung.
“100,” jawab saya.
Kemudian si K bilang gini, “lihat, ini bagus, cuma 100,” sambil memegang baju B yang saya taro di atas etalase. Baju A dan B mirip. Materialnya sama, modelnya beda bagian atasnya. Dan baju A tanpa furing sedangkan baju B memakai furing.
“Yang itu beda harganya. Itu 150,” sanggah saya.
“Tadi katanya 100,” ucap si K.
“Kamu tadi nanya yang ini,” ucap saya sambil nunjukin baju A yang udah saya gantung.
“Kamu tahu harga ga sih? Mana pemilik tokonya?” tanya si K songong.
“Toko ini punya saya,” jawab saya. (ape lo ape lo).
Si K mukanya langsung shock. Si G yang dari tadi udah mencoba memberi tahu bahwa saya adalah pemilik toko, ga digubris oleh si K.
“Mba ini pemilik tokonya. Udah bertahun-tahun di sini sama suaminya,” ucap si G.
Sudah beberapa kali saya ketemu orang turki yang songong model begini. Lagaknya kayak sosialita tapi duitnya ga ada.

Apakah di Turki ada tukang urut?

  jawabannya ADA, disebut ÇIKIKÇI (dibaca: ceu-keuk-ceu). profesi ini bukanlah profesi yang formal dimana terdapat tempat praktek dengan pla...