Showing posts with label pasar jumat. Show all posts
Showing posts with label pasar jumat. Show all posts

Ada yang ambruk

 

Semalam sekitar pukul 18.20an, saya sedang di dalam toko, nunggu waktu pulang (naik bus pukul 19.00) sekalian nemenin suami ngerjain tugasnya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang kencang. Saya langsung bergegas keluar.
"Mau ke mana?"
"Mau liat suara yang barusan."
Ketika saya keluar toko, ternyata semua orang berlarian ke arah bangunan (tempat yang sedang dibangun).
"Ada sesuatu yang jatuh," maksud saya sih mau ngomong ambruk tapi rada panik lihat orang-orang yang berlarian ke bangunan, jadi bilangnya jatuh.
Suami langsung lari ke arah TKP (pagar pembatas bangunan hanya sekitar 10 meter dari toko saya). Orang-orang kebanyakan melihat dari pagar pembatas. Suami masuk ke tengah-tengah TKP. Saya mengamati dari kejauhan saja. Tidak jelas apa yang terjadi di sana. TKP sangat gelap, tidak ada penerangan yang memadai. Tapi pegawe bagunan tetap bekerja padahal hari sudah gelap.
Tidak lama, sirine ambulans terdengar mendekat. Seorang ibu berlari ke arah datangnya ambulans, ia memberi tanda menunjukkan jalan menuju TKP. Sebelumnya beberapa orang satpol pp yang sedang berada di sekitaran sudah berada di TKP. Polisi pun datang setelah ambulans tiba. Beberapa saat kemudian terdengar lagi sirine yang berbeda, pertanda mobil damkar datang.
Terlihat 2 pegawe bangunan yang terluka akibat sesuatu yang ambruk itu dibawa ke ambulans. Untungnya tidak terluka parah, karena mereka masih bisa berjalan. Setelah dilakukan pertolongan pertama, ambulans membawa mereka ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.
Petugas damkar pun segera meninggalkan TKP setelah memastikan tidak ada korban lagi di tempat yang ambruk tersebut. Polisi masih berjaga di sana ketika saya pulang menjelang pukul 19.00.
Pagi ini, di tempat bangunan dilakukan pengangkatan sesuatu yang ambruk semalam. pagarnya sih tidak ditandai dengan pita "tempat kejadian perkara". Hanya pita pengaman biasa aja berwarna merah putih. Entahlah, apakah pembangunan akan kembali berlangsung seperti sebelumnya atau ditunda dulu? Kelihatannya sih tidak ada polisi yang melakukan penyidikan lebih lanjut. Apakah kejadian semalam merupakan kelalaian atau kecelakaan biasa? Entahlah

Pacar Indonesia?

"Mba kamu asalnya dari mana?" tanya si abang sayur langganan di pasar jumat.
"Indonesia," jawab saya.
Terus si abang ngebuka fb di hpnya.
"Mba liat ini. Indonesia bukan?" pinta si abang sambil memperlihatkan akun fb seorang cewe di hpnya.
Tertulis Cibinong di akun itu dan terlihat foto cewe berhijab kuning.
"Katanya dia guru," kata si abang.
"Iya itu Indonesia," ucap saya.
Ehemmm ini mah tanda tanda apa ya
Kalo belanja ke si abang itu pasti dikasih diskon.
Tadi si abang kaget liat saya belanja pake masker.
"Hallo bang," sapa saya sambil ngambil plastik.
"Eh kamu siapa?" katanya bari seuri.
Saya ngambil brokoli yang harganya 2 lira.
"Mba ambil 3 jadi 5 lira," katanya.
Tadinya mau beli 2. Ya udah jadi 3.
Terus nanya lagi, "Indonesia itu jauhnya segimana. Naik pesawat berapa jam?"
Mendengar jawaban saya, si abang agak mikir. "Jauh banget," katanya.
Si abang sama cewe itu komunikasi pake bahasa apa?
Si abang ga bisa bahasa inggris. Kemungkinan besar pake google translator.
Kalo misalnya si abang mau nikah sama cewe ini dan si cewe terbuai dengan turki terus datang ke sini, sanggupkah untuk jualan di pasar?

Lobak Merah Putih


Hari Jumat, minggu yang lalu, saya membeli dua lobak untuk bikin soto lobak. Di samping lobak putih ada lobak merah. Saat membeli pagi itu, saya tidak membeli lobak merah, tapi penasaran juga dengan rasanya.

Setelah si abang menimbang lobaknya, saya pun membayarnya, tapi saya tidak langsung pergi.
"Ada yang lain mbak?" tanya si abang.
"Engga makasih. Ini mau moto dulu," jawab saya sambil sibuk memotret lobak merah putih.
"Oh mangga difoto aja. Ntar tunjukkin ke semua kenalannya ya," ucap si abang sambil seuri.

Setelah beres motret si lobak, saya kembali ke toko. Lalu saya chating dengan teman membicarakan rencana hari Minggu. Hasil chating itu, diperlukan 2 lobak lagi untuk membuat masakan lain. Saya pun kembali ke lapak lobak yang tadi.

"Selamat datang kembali, mbak," sapa si abang. Kayaknya ini abang yang tadi pagi melayani saya.
Saya dikasih kresek transparan. 

Saya masukin dua lobak putih ke dalam kresek. Terus saya nanya harga lobak yang merah, "Ini harganya sama bang?"

"Sama," jawab si abang.

Saya masukin juga 2 lobak merah ke dalam plastik yang sama. Setelah beres transaksi, saya kembali ke toko.

----

Sampai di rumah, siapin makan malam. Juga kupas lobak merah dan diiris-iris bulat untuk dicocol ke kecap pedas. Saya coba seiris lobak merah, ternyata rasanya manis, mirip bengkuang.

---

Hari ini, saya rencananya mau membeli lobak merah lagi. Tadi pagi turun dari bus sengaja melewati dua lapak yang minggu lalu sedia lobak merah putih (hanya ada di dua lapak itu). Ternyata tidak ada lobak merah maupun putih. Yahh.... penonton kecewa...


Lupa bahasa turki


Tadi ke pasar belanja di satu lapak aja. Beli wortel, kacang panjang, leek, dan daun bawang.
Pertama ngambil kacang panjang seiket. Terus minta leek setengah kilo. Terus ngambil wortel. Terakhir mau minta daun bawang tapi lupa bahasa turkinya.
"O ne abi?" (Itu apa bang) tanya saya.
"O ne?" (Itu apa?) tanya si abang bingung.
Saya juga bingung mau ngomong apa. Terus aja "o ne" sambil ngeliatin daun bawang.
Aduh ini memori rada lola. Setelah beberapa detik baru deh inget.
"O taze soğan," (itu daun bawang) ucap saya.
Si abang pun menimbang daun bawang yang saya minta.

Film Gratis

Jumat, 3 Mei 2019

Saya sedang berdiri di pintu, melihat anak-anak kecil melempar sesuatu ke arah depan toko saya. Ketika saya melihat ke depan, ternyata ada adegan yang tak pantas sedang terjadi di sana. Anak-anak kecil itu rupanya berusaha mengingatkan mereka dengan melempar sesuatu, tapi lemparannya tidak mengena sasaran. Jadi mereka asyik saja dengan adegan yang sedang berlangsung.
Sepasang turis, cewe dan cowo. Ketika saya melihat, si cowo seperti sedang berusaha menenangkan si cewenya. Si cewe dipeluk sambil ditepuk-tepuk punggungnya. Setelah itu si cowo menciumi bibir si cewe. Aduh, saya jadi malu dan mengalihkan pandangan. Eh, pegawe cowo sebelah, ternyata lagi nonton adegan ini.
Anak-anak kecil yang tadi melempar masih berada di tempat yang sama dan melihat adegan ini. Tapi, mereka tidak tinggal diam.
"Abi, sen sapık mısın (Bang, kamu mesum ya)?" teriak salah satu anak.
Si turis pastinya ga ngerti apa yang dikatakan si anak, karena si anak ngomong bahasa Turki. Si turis pun terus aja melanjutkan adegannya.
Si anak langsung mendekati mereka. "Abi, sen deli misin (Bang, kamu gila ya)?" tanya si anak sambil berdiri di dekatnya.
Si turis sepertinya merasa terganggu, mereka pun pergi dan menghilang di keramaian pasar Jumat.

Tambahan Apel

Jumat, 15 Maret 2019
Di pasar Jumat, saya suka beli apel di lapak bapak Y. Lapaknya di seberang toko saya. Suami kenal baik dengan bapak Y ini, jadi beliau pun mengenal saya. Di lapak beliau ada juga seorang bapak yang lebih tua dari bapak Y, saya sebut saja bapak tua. Nah bapak tua juga sudah kenal saya karena saya udah langganan di lapak mereka. Setiap winter saya suka beli apel, jamur, dan kadang pear. Kalau summer, saya suka beli peach, plum, dan kadang apricot.
"Hoşgeldin kara kız," (selamat datang Nyi Iteung) begitu sapaan bapak tua pada saya setiap saya datang ke lapaknya.
Kemarin, saya udah beli jamur di lapaknya. Hari ini saya datang lagi untuk membeli apel. Setelah beres memilih apelnya, saya berikan kantong berisi apel pada bapak tua untuk ditimbang.
"2 kilo," katanya sambil menunjukkan 2 jari.
"OK," kata saya.
Kantong berisi apel tidak langsung diberikan pada saya, melainkan ia menambhkan 4-5 apel ke dalamnya sambil berkata, "Ini untuk dimakan di toko ya."
Seperti halnya minggu lalu, saya membeli 2 kilo apel, eh si bapak menambahkan apel yang banyak. Ada kali tuh 1 kilo tambahnya. Sebelumnya si bapak nanya, "Kamu di toko ya?"
"Iya," jawab saya.
"Ini makan ya di toko," ucap si bapak sambil menambahkan apel.

Cerita Jumat Ini

Menjelang siang, saya belanja sayuran dan buah di lapak-lapak yang berada di depan toko saya. Semua pedagang di lapak-lapak itu mengenal saya. Kalo misalnya saya ga beli apa-apa juga, suka dikasih satu dua biji untuk dimakan saat itu.

Si teteh tempat saya nongkrong ga datang, anak cowoknya yang gantiin (dia juga kenal saya). Jadi saya ga bisa nongkrong di situ. kemaren si teteh nelpon katanya dia lagi rumah sakit di Antalya, nemenin suaminya yang sedang pengobatan kanker.

Oh iya, back to cerita belanja.

Saya belanja pırasa (bawang perai) dan cabe hijau (manis) di anak si teteh. Karena udah kenal dan mungkin diinstruksi oleh emaknya, jadi dikasih diskon.

Terus beli portakal (orange) di lapak si teteh yang satu lagi (tukang jagung). Si teteh yang ini juga hari ini ga ada, cuman ada pegawenya (cowok). Si pegawe ini juga udah kenal saya, bahkan kemaren cerita kalo kakeknya dia ini sobatnya mertua saya. Waktu saya mau milih portakal di lapaknya, dia minta saya milih yang di belakang. "kamu sodara saya, makanya saya minta kamu milih yang di sini," katanya sambil membuka kasa portakal. Beres memilih, saya kasih portakal untuk ditimbang. "Berapa?" tanya saya tanpa melihat timbangan. "Seikhlasnya aja," jawabnya.

Terus, saya beli pisang. Bapak tukang pisang ini kenal dekat dengan suami saya. Bahkan, suami saya melakukan penelitian untuk tesis S2 nya di kebun pisang milik si bapak ini. Saya pilih pisang dan masukan ke plastik. Si bapak nambahin terus dikasih ke saya sambil bilang gini, "Ga usah bayar." 

Saya sih udah nyangka kalo si bapak ini ga akan mau dibayar. Dari tadi saya maju mundur mau beli pisang. "Kalo ngambil satu atau dua biji pasti dikasih. Tapi saya mau beli sekilo," gumam saya dalam hati sambil pergi ke lapak si bapak. Ehh tetep aja gratis.

Lapak pisang ini sebelahan dengan teteh tukang jagung. Kalo si teteh lagi ada dan si bapak pergi Jumatan, kadang saya ngobrol dengan si teteh sekalian ngebantuin kalo ada yang beli di lapak si bapak.

Alhamdulillah rezeki di pasar jumat ini.
Dan tadi ada anak turis yang lewat di depan nyapa saya bikin nyesss hati ini.
"Assalamualaikum," sapa anak turis yang tangannya dituntun oleh ibunya yang cantik dan berhijab. 
"Waalaikumsalam," jawab saya. Kami bertiga saling melemparkan senyum :)

Jarang-jarang ada anak turis menyapa saya seperti ini. Biasanya cuman senyum dan saya dadahin.

Itulah sepenggal cerita Jumat ini. Dan Jumat belum berakhir, semoga cerita menyenangkan akan berlanjut :D

Turis bikin ribut

Menjelang siang di pasar jumat, terjadi sedikit keributan. Kejadiannya tepat di area depan toko saya.
Awalnya, saya melihat seorang anak kecil (orang asing) yang saya kenal. Sebenarnya sih gak kenal. Hanya saja, beberapa saat lalu, emaknya belanja di toko saya dan anak ini duduk di dalam toko. Anak ini sedang dikerumuni oleh zabıta dan beberapa penjaga toko sebelah yang laki laki. Mereka sedang mencoba menanyai anak ini, tapi sepertinya si anak ketakutan. Maklum, dikelilingi orang tidak dikenal.
Saya mendekati karena merasa tahu anak ini. 

"Kamu coba bicara dengannya. Kayaknya kamu bisa bahasanya anak ini," pinta seorang penjaga toko sebelah.
"Where is your mama?" tanya saya pada si anak.
Si anak masih merasa tidak nyaman dan dia tidak menjawab. Saya menuntunnya dan mengajak ke toko. Saya berharap ortunya akan datang kembali ke daerah sini.
"Kamu kenal anak ini?" tanya seorang zabıta.
"Engga, tapi ortunya customer saya," jawab saya sambil menuntun si anak.

Saya minta si anak duduk di kursi di depan toko. Jika si ibu ngelewat bisa melihat anaknya.
Mata saya jelalatan ke arah pasar. Seketika saya melihat sosok emaknya di seberang toko. Si emak pun terlihat panik sedang mencari anaknya. Langsung saya tuntun si anak dan ngasih tahu zabıta bahwa ortunya si anak ada di seberang.
Alhamdulillah akhirnya mereka bersatu kembali.

Tiba tiba terdengar suara ribut dari arah yang sama, di tempat bertemunya anak dan ortu tadi. Bapak si anak berteriak pada zabıta. Si bapak tidak menginginkan foto anaknya disebarkan. Dia pikir bahwa zabıta memoto anaknya dan akan menyebarkannya. Saya mendekat kembali dan coba men-clear-kan suasana.

Saya tanya ke zabıta apakah ada foto anak itu di telponnya. Zabıta jawab tidak. "Saya hanya menulis pengumuman bahwa anak ini sudah bertemu keluarganya. Kan tadi diumumkan hilang. Nah sekarang udah ketemu. Tapi ga pake foto," kata zabıta. Saya pun menerangkan demikian pada si bapak. Tapi si bapak keukeuh bahwa "no pictures, this is our privacy. Di eropa bla bla bla." Dan si bapak ngomongnya teriak teriak emosi. Zabıta tetap tenang. Dan pedagang (seorang pemuda) yg lapaknya ketutupan mencoba menenangkan juga, " tenang, mereka sudah menemukan anak kamu bla bla bla."
"Shut your fucking mouth," ucap si bapak pada si pemuda.
Aduhh untung si pemuda bisa menahan emosi. Dia tetap tenang dikatai begitu. Tapi zabıta yang lain jadi emosi.
Keadaan jadi panas, saya pun melipir keluar kerumunan. Beberapa menit kemudian, kerumunan bubar.

Zabıta = polisi pamong praja


Yang berbeda di keramaian pasar jumat


Suasana di pasar jumat kemaren ada yang sedikit aneh.
Hari masih pagi, saya duduk sendiri di depan toko. Melihat orang lalu lalang di pasar jumat. Tiba tiba mata saya tertuju pada dua orang turis cowo yang jalan berduaan. Ada yang aneh dari mereka di mata saya. Yang satu cowo berjenggot (sebut saja A), yang satunya berwajah putih bersih tanpa jenggot dan sedikit gemulai (sebut saja B).
Mereka berjalan ke arah utara sambil melihat lihat dagangan pasar. Posisi pertama si B berjalan di sebelah kiri si A. Tangan si B melingkar ke lengan si A. Kemudia mereka berganti posisi. Si B berada di sebelah kanan. Kemudian mereka berpegangan tangan erat, saling menyilangkan jari jemarinya seperti layaknya pasangan kekasih lelaki dan perempuan.
:-|

Akan turun salju?


Kamis sore, seperti biasa nongkrong di lapak si teteh di depan toko. Saat itu ngobrol bertiga, saya, si teteh, dan seorang bapak. Sambil ngobrol, si teteh mantengin prakiraan cuaca di hp nya.
"Wah nanti sabtu malam jam 11 sampe minggu jam 6 pagi akan turun salju," kata si teteh kaget.
"Hah, berarti entar minggu pagi di mana mana putih donk," ujar saya ikutan kaget.
"Itu beneran prakiraan cuaca di alanya?" tanya si bapak.
"Iya, saya sih liat alanya," ucap si teteh sambil berusaha mencari nama kota di prakiraan cuaca tersebut.
"Sini saya cariin," timpal saya sambil mengambil hp nya.
Ternyata yang dilihatnya adalah prakiraan cuaca untuk wilayah LONDON hehehe 
Saya pun mengembalikan kota alanya untuk prakiraan cuaca di hp si teteh.
Padahal udah seneng aja akan melihat alanya memutih di minggu pagi. Tapi untuk sekarang hanya bisa menghayalkan saja 

Melon Mini Imut


Melon mini imut 1 lira
Melon = kavun (dibaca: ka-wun)


Melon imut (segede jeruk washington)
Maniissss, tak berbiji.
Tadi pagi beli lima, 1 lira/buah.
Satu biji udah dinikmati berdua sama si pirang.


Indonesium


Kemaren (kamis) sore, lagi duduk duduk di lapak si teteh (depan toko), tiba tiba dengar sesuatu yg mengejutkan. Emang di lapak sebelah kanan si teteh mencoba berkomunikasi english seadanya dengan sepasang turis. Kemudian si turis cewek sepertinya menyebutkan kalimat syahadat. Yang terdengar oleh saya bagian akhirnya saja. "...Muhammadarrasululllah, insyaAllah," kata si turis dan berlalu dari sana.

Saya perhatikan pasangan turis ini. Kemudian mereka mampir ke lapak seorang nenek di sebelah kiri si teteh. Mereka tertarik dengan cengek. Mereka coba komunikasi dengan bahasa turki seadanya dan campur inggris. Si nenek ga ngerti inggris, lalu saya samperin mereka. Saya coba bantu terjemahkan.

Pasangan turis ini seperti familiar melihat muka saya. "Indonesium?" tanya mereka pada saya.
"Ya, Indonesia," jawab saya sambil tersenyum. "Where are you from?" tanya saya.
"From Russia," jawabnya.
Mereka senang mendengar jawaban saya, dan lanjut bercakap. "Kami pernah tinggal di Indonesia 2 tahun," katanya.
"Wow, di kota mana?" tanya saya.
"Bali, Surabaya,...," jawab mereka.
"Saya dari Bandung," ucap saya.

Kembali ke masalah cengek, ternyata ga sepakat harganya. Menurut mereka kemahalan. Katanya di Indonesia murah, 2$ bisa dapet sekilo hehe. Ga tau mereka tahun berapa tinggal di Indonesia.

Lalu saya kasih tahu bahwa saya pemilik toko di belakang lapak ini. "That is my shop," ucap saya pada mereka sambil menunjuk ke toko.

Semoga aja lain waktu mereka bisa mampir untuk sekedar berbagi cerita tentang Indonesia 

Sepertinya ada yang bertengkar

Sepertinya ada suami istri bertengkar. Suaranya terdengar datang dari salah satu rumah di apartemen sebrang toko. Beberapa bulan lalu saya pernah nulis status yang senada seperti ini. Sepertinya yang sekarang bertengkar pun pasangan yang sama.
Terdengar ribut ribut dari arah depan, kata "tokat" (tampar) terdengar jelas dalam suara ribut itu. Saya langsung keluar dari toko. Para pegawe toko sebelah pun mendengar suara ribut tersebut. Mereka melihat ke arah atas apartmen sebrang itu mencari sumber suara, saya pun begitu.
Sama seperti peristiwa sebelumnya, kami hanya bisa mendengar suara tanpa bisa melihat orangnya. Seperti mendengar sandiwara radio saja.
Kami menebak nebak rumah yang mana dan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Barusan terdengar perempuan berteriak. Ntah berkata apa karena suara tidak jelas.

si Teteh Jualan lagi

Setelah dua bulan off (ngadem di yayla) dagang di pasar, hari ini (tepatnya kemarin), si teteh mulai jualan lagi. Seperti biasa, saya pun nongkrong lagi di lapaknya sekalian ngebantuin.
Nah tadi ada bapa turis (ngomong inggris) yang beli kacang tanah. Harganya 5 lira per kilo. Si bapa turis belinya setengah kilo. Dia ngasih uang 5 lira. Pas mau dikasih kembalian si bapa nolak. "No, no," katanya sambil ngambil beberapa biji kacang lalu pergi.

Menyaksikan Kesombongan

Lokasi: pasar jumat alanya.

Dalam suasana hiruk pikuk kamis sore, para pedagang mempersiapkan lapaknya untuk pasar jumat. Sebuah mobil mendekat ke sebuah lapak. "Kenapa mobil itu tidak berhenti?" pikir saya. Terus saja mobil itu melaju dan menggilas buah-buahan yang merupakan barang dagangan seorang ibu.

Kemudian seorang bapak (pengemudi) turun dari mobil. Dia bilang gini ke ibu yang dagangannya digilas, "ini bukan tempat kamu, bereskan dan pindah dari sini."

Kok sombong begitu si bapak itu. Meskipun itu bukan tempat si ibu untuk buka lapak, apakah perlu melindas barang dagangannya?

Geram melihat kejadian ini, banyak kata-kata tidak baik yang bisa keluar dari mulut ini jika saja hati ini tidak bersabar. Astaghfirullah

Apakah di Turki ada tukang urut?

  jawabannya ADA, disebut ÇIKIKÇI (dibaca: ceu-keuk-ceu). profesi ini bukanlah profesi yang formal dimana terdapat tempat praktek dengan pla...