Showing posts with label hanut. Show all posts
Showing posts with label hanut. Show all posts

Membongkar Tabir Hanut


Hanut itu apaan sih? Hanut itu seseorang yang membawa customer turis ke toko kita. Jika kita berhasil menjual ke si turis, maka orang itu dikasih persenan. Hanut biasanya orang yang berstatus sebagai pegawe di toko lain. Jadi misalnya ada turis datang ke toko tempat si hanut kerja. terus si turis perlu baju muslim, nah sama si hanut diantar ke toko saya.
Kemarin ada turis Inggris asal Banglades dibawa oleh si hanut ke toko saya. Turis belanja di toko saya, otomatis saya harus ngasih persenan ke si hanut atas penjualan ini.
Belum pernah ada turis yang nanya hubungan saya sama orang yang mengantarnya itu. Tapi turis kemarin sepertinya dia iseng nanya begini.
"Apa hubungan kamu dengan orang yang tadi ngantar saya. Apakah dia ada hubungan bisnis sama kamu?"
Saya pun buka kartu tentang hanut ke turis itu.
"Dia itu dapat persenan kalau saya menjual barang ke kamu."
Saya menjelaskan sedikit tentang hanut ke turis itu. Dia jadi speechles dan kayaknya dia merasa bersalah sudah menawar. Karena sekarang dia tahu kalau uang yang saya dapat darinya harus diberikan ke si hanut 10%.
Di Turki, sebenarnya hanut itu dilarang alias melanggar hukum. Tapi sepertinya hukum itu ada untuk dilanggar ๐Ÿ˜
Hanut-hanut yang suka mengantar turis ke toko saya atau toko lain itu hanyalah kelas teri. adapun hanut kelas kakap yang pastinya lebih menguntungkan.
Tur-tur yang punya "perjanjian" dengan toko leather atau jewelry (biasanya toko besar), ini pun termasuk hanut (kelas kakap). Karena mereka selalu membawa rombongan turis ke toko leather dan jewelry. Di Alanya biasanya turis rusia yang suka dibawa ke toko-toko ini.
Jadi kepikiran, di paris ada hanut juga ga ya? kalo jadi hanut di sana, 10% dari toko channel misalnya ๐Ÿ˜ƒ




Terima Kasih Dian

Kemarin menjelang sore, ada hanut bawa rombongan turis yang ternyata sekeluarga (ibu bapak dan 5 anak. 3 anak cewe dan 2 anak cowo).

Si bapa langsung tertarik dengan abaya hijau yang dipajang di manekin depan pintu, "Zainab, lihat abaya ini bagus!" 

"Saya punya warna lain, biru tua, hitam, dan kuning," ucap saya menawarkan.

"Boleh saya mencoba yang berwarna biru tua," ucap Zainab.

Saya ambilkan abaya tersebut untuk dicoba olehnya.

Bapa, Zainab, dan anggota keluarga lainnya langsung suka dengan abaya tersebut. OK fix mau dibeli.

"Ini harganya berapa?" tanya si bapa.

Saya sebutkan harga yang tercantum di price tag.

"Itu kan untuk orang lain. Kalo untuk keluarga tentunya beda dong," ucap si bapa minta diskon.

Bisa aja bapa ini, ngaku-ngaku keluarga supaya dikasih diskon wkwk.

"Ok, yang ini udah fix, trus mau beli yang lainnya kan?" tanya saya memastikan.

"Ya, ya, kita mau beli yang lainnya," ucap si bapa.

"OK nanti saya totalkan, baru dikasih diskon."

Setelah mendengar kepastian akan dikasih diskon, langsung mereka sibuk memilih baju-baju untuk dicoba. Saya memperhatikan aja. Paling kalau mereka perlu ukuran, baru saya bergerak untuk ngasih ukuran yang dimaksud.

Mendengar mereka ngomong bahasa Prancis, saya menebak asal mereka, "Are you from France?"

"We are from Belgium," jawab si bapa. Si bapa dan zainab bisa bahasa inggris, jadi mereka yang banyak komunikasi dengan saya.

"Originalnya kami dari Maroko. Tapi saya lahir dan besar di Maroko," kata si bapa menjelaskan.

"Saya dari Indonesia," ucap saya memperkenalkan diri.

"Oh beautiful country dan muslim terbanyak," ucap si bapa memuji Indonesia.

"Kamu lahir di sini?" tanya si bapa.

"Engga. suami saya orang sini," jawab saya.

"Oh ya ya, kamu harus mengikuti suami."

Sambil masih sibuk memilih, kami sambil ngobrol.

"Apa bahasa Indonesia untuk thank you?" tanya si bapa.

"Terima kasih," jawab saya.

"Terima kasih," Zainab langsung menirukan.

Bapanya baru bisa lancar bilang terima kasih setelah saya mengulang 3 kali :D

Ketika Zainab meminta izin ke bapanya untuk membeli pashmina hitam, bapanya ngomong gini, "Lihat, abangmu cuman beli 1 t-shirt. Tapi kalian beli macam-macam."

Saya nimbrung, "Yah begitulah kalau punya anak cewe. Cowo kan bajunya cuman t-shirt dan kemeja. kalau cewe kan banyak macamnya."

"Pantas aja kamu punya toko baju cewe ya," ucap si bapa sambil ketawa. Dan kami pun ketawa berjamaah.

Setelah fix 16 pcs baju akan dibeli, si bapa langsung minta ditotalkan, "OK, sekarang berapa harga semuanya?"

Saya tulis satu per satu bajunya beserta harga di price tag lalu ditotalkan. Kemudian di sampingnya saya tulis masing-masing harga diskon dan totalan. Asli saya gemetaran pas ngitung pake kalkulator di laptop. Maklum kalau udah kebanyakan begini, udah ga mudeng ngitung di luar kepala. Ngitung pake kalkulator aja masih ada salah-salahnya. Salah pencet lah, kelebihan harga lah. Sampe saya ulang 3 kali ngitungya. Itu baru ngitung harga normal, belum harga diskonnnya. Lumayan lama saya ngitung totalan ini. Udah mah cuaca panas, basah deh baju saya, keringetan. Meskipun udah nyalain AC, tapi ga mempan.

Selagi saya sibuk ngitung totalan, 3 anak cewe ini tanpa diminta bantuan, langsung ngelipetin baju-bajunya. Dan akhirnya saya beres ngitung. Eh si bapa ngasih tambahan abaya 1 lagi. Saya pun menambahkan ke harga totalannya. Lalu saya kasih lihat ke si bapa. Si bapa masih menawar harga diskon yang saya tulis. OK saya pun menyetujui harga tawarannya.

"Saya mau bayar pake euro," ucap si bapa. Saya pun langsung mengkonversi di google, lalu saya tunjukkan.

"OK, saya akan kasih 300 euro," ucap si bapa.

Ketika si bapa menyerahkan 300 euro, saya kasih kembalian 4 euro.

"Ga usah. kamu sudah baik melayani kami," katanya menolak kembalian 4 euro tersebut.

Sambil memasukkan baju-baju ke kantong, kami ngobrol lagi. Kali ini memperkenalkan nama-nama mereka. Awalnya saya yang nanya, "Ini namanya Zainab?"

"Yes ini zainab, yang ini Khadija, yang ini Asiyah," ucap si bapa sambil menunjuk masing-masing anak cewenya.

"Kalau yang cowo?" 

"Ini Hudaifa," ucap si bapa sambil menunjuk anak cowo yang besar

"dan ini Ismail," menunjuk anak bungsu.

"Ini Malika," menunjuk istrinya.

"dan saya Idris."

"Kamu namanya siapa?"

"Saya Dian."

Setelah beres semua masuk kantong, mereka titip semua kantong di toko saya. Saya dan Zainab ke penjahit untuk motong abaya yang kepanjangan (ternyata 3 sodaranya ngikut juga).

Sepulang dari penjahit, mereka akan jalan-jalan dulu. 20-30 menit kemudian mereka akan kembali karena saat itu jahitan baru beres. Sebelum pergi si bapa ngomong gini, "Terima kasih Dian." :D

Saya masuk ke toko beberes dan menulis transaksi barusan di buku penjualan dan stok. Lagi nulis, mereka datang lagi nanya di mana mau beli baju gamis buat cowo. Saya keluar untuk menunjukkan tempatnya.

Sebelum pergi si bapa berhenti sebentar seperti lagi mikir. kita semua ngeliat si bapa. eh taunya mau ngomong "terima kasih" hehehe.

Udah tuh ya mereka ke toko yang saya tunjuk. saya lanjutin nulisnya.

Beberapa saat kemudian mereka datang untuk mengambil barang-barangnya. Saya kasih abaya yang sudah dipotong itu ke Zainab. Dan saya juga ngasih kartu nama ke dia.

https://goo.gl/maps/fdSWNYUBbNiNiL867

"Nanti kamu scan qr code ini untuk ngasih review atau rating ya," ucap saya ke Zainab.

"OK," sambutnya seraya menerima kartu nama.

Kami pun berpisah di depan toko sambil saling mengucapkan terima kasih.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ehhh beberapa saat kemudian, saya lagi nongkrong di depan toko, ada hanut lain yang membawa mereka ke toko saya lagi. ckck. Saya pikir mereka mau beli sepatu dan dibawa oleh hanut ke toko sepatu di sebelah. Tapi kok baru saja masuk udah langsung keluar lagi. Rupanya ini hanut mau membawa mereka ke toko saya untuk belanja. Ini hanut ga liat apa ya, mereka kan udah bawa 4 kantong bertuliskan nama toko saya. 

"Kalian mau cari apa?" tanya saya.
"Kami mau cari toko lain yang seperti toko kamu," ucap si bapa.
"Oh... pokoknya toko-toko baju di sekitaran sini menjual baju-baju muslimah," jawab saya.

Sebelum berpisah, ternyata Emine datang. "That is my daughter," ucap saya sambil menunjuk Emine yang berjalan mendekat.

Akhirnya kami pun berpisah dengan mengucapkan terima kasih berbagai bahasa, terima kasih, thank you, dan teลŸekkรผr ederim.






Tip dari Turis Austria

 


Barusan ada hanut (yang biasa) bawa pasangan turis tua. Sewaktu si hanut mau pergi, si ibu turis ngasih uang ke hanut sambil bilang, "hediye (hadiah)."
Terus si ibu ngasih tunjuk ke saya foto mukena potong yang ada di HPnya.
"Oh, saya ga punya yang model itu. Tapi saya punya model yang lain."
"Gpp, yang penting mukena aja," kata si ibu.
Saya kasih tunjuk 3 model yang ada.
"Saya mau yang ada hijabnya."
Saya pun kasih lihat hijab di dua model yang set dengan hijab.
"OK, saya mau yang ini dan yang ini," sambil milih warna biru with zipper dan ungu tanpa zipper.
"Jadi berapa totalnya?" tanya si ibu.
Setelah saya kasih harga totalan diskon, si ibu masih menawar. Tapi tawarannya masih menyisakan margin setelah nanti saya potong persenan untuk hanut. Saya pun mengiyakan harga tawaran si ibu. Gak lupa saya tanya asal mereka.
"Vienna," jawab si ibu.
"Ohh, Austria?" tanya saya memastikan.
"Yes, Austria," jawab si ibu.
Dua mukena itu saya masukkan ke kantong, lalu memproses pembayaran dengan kartu. Setelah keluar bukti pembayarannya, Si ibu ngasih saya uang sambil bilang, "hediye for you."
Euleuh dapet tip kayak si hanut tadi ๐Ÿ˜ƒ
Alhamdulillah
Sebelum keluar, si bapak sepertinya penasaran liat saya, "Are you from Philippines?"
"I am from Indonesia," jawab saya.
"Oh Indonesia. I love Jakarta," ucap si ibu.
Ah ga sempat ngobrol dulu, karena sepertinya mereka buru-buru. Kami pun berpisah dengan ucapan, "Have a nice day, bye bye."

"Sultan" Palestina

Kemaren sepulang dari Zuhur di mushola, di depan toko udah ada babang ganteng dua orang. Ternyata mereka dua turis yang dibawa oleh hanut.

Saya langsung mengajak mereka masuk ke toko. Si babang ganteng yang kulitnya putih langsung nunjukkin foto mukena, "Do you have this?"
"Yes," jawab saya sambil nunjukkin barangnya. Saya pun nunjukkin model-model mukena yang lain. Sekarang di Turki sudah tersedia berbagai model mukena ala Turki. Ini jadi mempermudah bagi cewe-cewe OT yang tidak berjilbab jika ingin melaksanakan salat 5 waktu. Dan juga, namaz elbisesi aka prayer dress aka mukena ini banyak dicari oleh turis-turis luar negeri. Jadi kami pun menyediakannya di toko.
"Berapaan?" tanyanya.
Saya jawab dengan menyebutkan angka yang tertulis di tag price.
"Itu sudah last price?" tanyanya lagi.
"Tenang aja bang, nanti ada diskon," jawab saya.
Terus si babang vidio call sama seseorang sambil menunjukkan produk yang ada di toko. Dia ngomongnya pake bluetooth earphone. Sementara babang yang satunya pergi ke luar. Pas balik ke toko, dia bawa air. Oh ternyata dia keluar buat beli air. Padahal mah bilang ih, air mah ada tuh di kulkas ๐Ÿ˜ƒ
Sementara si babang lagi vidio call untuk milih-milih baju, saya nyalain laptop. Karena siapa tahu perlu internet buat konversi mata uang. Karena biasanya turis suka minta konversi ke usd atau euro. Seperti pagi-pagi dibawain turis rusia sama hanut yang lain. Dan, yes, turis rusia emang suka bayarnya pake usd. Tapi ternyata babang ini bayarnya pake turkish lira.
Nah, sembari tetap ngomong di telepon, si babang juga ngomong sama saya. "Tunik yang itu ada ukuran sekian? Set yang itu ada ukuran sekian?" Babang ini nanya ukuran 38 dan 40. Tunik dan set yang ditanyakannya itu ukuran big size, jadi tidak ada ukuran yang ditanyakan. Terus saya tunjukkan tunik dan set yang ada ukuran 38 dan 40.
"Katanya kalau ukuran Turki itu lebih kecil dari ukuran Eropa," kata si babang.
"Mungkin juga," ucap saya dengan mimik ga yakin.
"Kamu ada meteran?"
"Ada," langsung saya ambil meteran.
"Bentar ini lagi ngukur dulu," katanya orang yang ditelpon lagi ngukur di sana.
"Coba ukurin tunik ini," sambil dia nunjuk yang akan diukur.
Terus saya ukur juga tunik yang dipasang di manekin luar.
"OK, saya mau tunik yang di luar itu," katanya.
"Saya mau set tunik yang di atas ini," tambahnya.
"Yang itu kan ga ada ukurannya," ucap saya.
"No problem."
Ya udah saya turunin ukuran terkecil 44.
"saya juga mau long dress ini," sambil nunjuk long dress pink.
Saya turunkan ukuran 42, long dress ini slim fit jadi bisa pas untuk 40.
"kalau tunik yang ini?" dia nunjuk tunik warna hijau.
"Yang ini paling kecil 46," jawab saya.
OK kalau gitu hitung berapa total yang tadi.
"Mukenanya 1?" tanya saya.
"Saya mau 3," jawabnya.
"Saya cuma punya 2."
"OK berarti 2."
Saya lanjut ngitung total. saya totalin harga normal, kemudian saya totalin harga diskon. terus saya tunjukkin ke dia.
"Ini udah last price?"
"Kalau mau nawar, boleh."
Eh ternyata dia mau nambah lagi.
"Saya mau yang hijau juga," katanya.
"Tapi kan ga ada ukurannya," ucap saya.
"Gpp. Saya kalau lihat yang saya suka, saya harus membelinya," ucap si babang sambil terpana lihat tunik hijau.
euleuh ini babang ternyata sultan ya ๐Ÿ˜ƒ
Ya udah saya turunin yang ukuran 46.
Saya selalu mencatat dari mana asal turis yang belanja di toko saya. Saya pun nanya asal si babang ini.
"Saya asalnya dari Palestina, tapi saya tinggal di Holland," jawabnya. Meni someah si babang teh, selalu tersenyum kalau ngomong ๐Ÿ˜ƒ
Saya tambahin harga tunik ini ke totalan yang tadi. Si babang ngeliatin kan tulisan saya. langsung dia ngeluarin uang segepok (seratusan) dan dihitungnya. terus taro di meja.
"Bismillah," saya pun hitung uang segepok itu. Dan jumlah uangnya sesuai dengan totalan yang saya tulis.
Setelah saling mengucapkan terima kasih dan saya serahkan barang borongannya, si babang dan temannya pun keluar dari toko saya. Saya antarkan sampe depan dan say goodbye.
Alhamdulillah transaksi yang lancar tanpa drama dan bisa bagi-bagi persenan gede ke hanut. Seneng kalau dapat customer turis yang dibawa hanut model gini. jadi kan si hanut juga dapet persenannya gede.

Tidak jujur


Hari ini ada dua hanut membawa turis yang sama. Si turis bukannya ngomong kalo tadi udah dibawa ke toko saya oleh yang lain. Pas dibawa oleh hanut kedua, saya bilang ke si hanut bahwa turis ini tadi udah dari sini. Tapi ga beli apa apa. Si hanut nanya ke saya baiknya dibawa ke mana turis ini. Saya sarankan utk dibawa ke toko seberang. Tapi sepertinya si turis ga mau. Trus si hanut juga keliatannya ga mau membawa mereka ke toko pesaing. Si turis pergi sendiri ke arah toko pesaing. Tak lama kemudian lewat toko saya kembali dengan tangan kosong.
Saya cerita ke suami tentang si hanut yg ga mau bawa turis ke toko pesaing. Terus suami bilang gini, "banyak hanut udah pada tau kalo toko pesaing itu ga jujur. Mereka ngasih persenan tidak sesuai penjualan. Apalagi kalo misalnya mereka menjual barang yang murah, mereka ga ngasih persenan sama sekali."
Pernah ada bapak guide yang pandai bahasa rusia membawa rombongannya ke toko itu. Si bapak diam di dalam toko dan menyaksikan sendiri apa yang dijualnya. Jadi si bapak tahu berapa penjualan yang terjadi. Ketika transaksi selesai, si bapak dikasih persenannya kurang. Kata si bapak saat itu penjualannya 2500 berarti si bapak harusnya mendapat 250, tapi tidak demikian yang diterima oleh si bapak.
Ketika si bapak lewat toko saya yang mana saat itu suami saya yang standby, si bapak mampir lalu ngobrol. Si bapak cerita tentang transaksi yang baru terjadi di toko itu. Katanya si bapak ga mau lagi bawa turis ke toko itu. Insyaallah kalo bawa rombongan turis lagi akan dibawa ke toko saya.

Apakah di Turki ada tukang urut?

  jawabannya ADA, disebut ร‡IKIKร‡I (dibaca: ceu-keuk-ceu). profesi ini bukanlah profesi yang formal dimana terdapat tempat praktek dengan pla...