Showing posts with label my stories. Show all posts
Showing posts with label my stories. Show all posts

Apakah di Turki ada tukang urut?

 

jawabannya ADA, disebut ÇIKIKÇI (dibaca: ceu-keuk-ceu).
profesi ini bukanlah profesi yang formal dimana terdapat tempat praktek dengan plang bertuliskan çıkıkçı di depannya.
melainkan ini adalah profesi informal yang biasanya dilakukan turun menurun dan keberadaannya menyebar dari mulut ke mulut. dan biasanya juga pelaku profesi ini mempunyai pekerjaan tetap yang dijalani sehari-hari, sedangkan çıkıkçı sebagai profesi sampingannya.
pertama kali saya mengenal profesi çıkıkçı di Alanya ketika anak saya tangannya terkilir sewaktu kecil, antara tahun 2006-2007.
saat itu pergelangan tangannya merasa kesakitan. kami membawanya ke rumah sakit. pergelangan tangannya dirontgen, menurut dokter hasilnya baik-baik saja. namun anak saya masih merasa sakit. saya jadi berpikir kalo anak saya terkilir.
keesokan harinya, bapak mertua membawa kami ke sebuah desa di pinggiran alanya. ternyata di desa ini ada çıkıkçı (kita sebut bapak A). di sana pergelangan tangan anak saya hanya disentuh dan langsung sembuh.
oh iya info lain tentang çıkıkçı adalah tidak ada tarif khusus yang harus dibayar setelah menggunakan jasanya. waktu itu bapak mertua membawa hadiah pakaian untuk bapak A itu.
kedua kalinya memakai jasa çıkıkçı adalah ketika anak saya kelas 8 (sekitar tahun 2019-2020). yang menjadi çıkıkçı kali ini adalah anaknya dari bapak A. saya mendengar kabar bahwa bapak A sudah meninggal. anaknya ini profesinya sebagai supir jemputan sekolah, dan menjadi çıkıkçı sebagai sampingannya.
ok, begitulah cerita çıkıkçı di alanya. untuk teman-teman di kota lain kalau ingin tahu apakah ada tukang urut di sana, tanyakanlah pada orang lokal di sana.

See You Next Year

 

"Hellooooooo," sapa ibu turis sambil masuk ke toko.
"Haiiiii," saya pun beranjak dari duduk dan menyambutnya.
Rupanya keluarga ini datang lagi ke toko saya. Musim gugur tahun lalu, around october, mereka datang ke sini dan belanja. Kami berkenalan dan mengobrol ngaler ngidul. Si ibu keturunan Indonesia dari Maluku-Surabaya. Sebelum berpisah, si Ibu memberikan no hp dan alamatnya di Belanda. "Kalau kamu ke Belanda, hubungi saya ya. Nanti kamu tinggal di rumah saya."
Hari Senin lalu, mereka memberi kejutan datang ke toko.
Si anak agak ragu kalau saya masih mengingat mereka 😃
Dia sempat menanyakan hal ini pada saya. "kamu mengingat customer-customer turis yang datang ke sini?"
"Kalau terjadi sesuatu yang unik saat turis itu datang ke sini, saya pasti ingat," jawab saya.
Dengan mereka, saya pasti ingat. karena tahun lalu kami mengobrol banyak. jadi mereka di sini tidak sekedar belanja. Begitu pun dengan turis-turis yang lain. seperti yang selalu saya tulis di setiap status, pasti ada sesuatu yang unik.
Mereka janji, sebelum pulang ke Belanda, akan mampir lagi. hari Rabu, mereka datang lagi. Tapi saat itu saya sudah pulang. si Ibu menitipkan hadiah (untuk saya) pada suami. Kemaren voice call di WA katanya mau ke toko lagi hari Jumat karena ada perlu. Jadinya tadi ke sini lagi. Dan akhirnya perpisahan untuk sekarang. karena besok akan pulang ke Belanda.
"See you next year," sambil memeluk erat.
Semoga aja masih ada umur untuk bertemu lagi, aamiin.

Turis Swedia jadi Langganan

 "Hi, do you remember me?" sapa ibu turis sambil tersenyum riang.

"Hi, yes I remember you," ucap saya. Dan kami pun berpelukan.

Saya bilang yes sambil otak ini dengan cepat mengorek memori. Ini turis yang mana? Kapan datang ke sini? Asalnya dari mana? Saya harus berusaha secepat mungkin mengingatnya. Dan ya, saya pun dapat mengeluarkan memori tentang turis ini.

"Kamu datang ke sini tahun lalu kan?" tanya saya memastikan.

"Yes," jawabnya riang.

"Kamu orang Swedia kan?" tanya saya memastikan lagi.

"Yes," jawabnya tetap riang.

Lalu kami pun mengobrol lebih lanjut sambil memilih-milih baju yang akan dibelinya. Ketika turis ini datang, saya sedang melayani turis dari Kazakstan. Turis Swedia ngomong English, yang kazakstan ngomong Rusia campur Turkish. Kalau udah bahasa campur begini, otak saya kadang nge-hang.

Turis Swedia ini sepasang lansia non muslim yang membeli baju untuk anak cewenya yang beragama Islam. Tahun lalu, mereka datang ke toko saya diantar oleh seseorang yang kami sangka dia itu hanut. Jadi kami kasih deh tuh 10%. Padahal dia bukan hanut :D

Nah, tahun ini, mereka datang lagi ke sini sendiri (ga diantar siapa-siapa). Katanya mereka sempat bingung cari toko saya, karena di samping sini sedang ada pembangunan gedung besar. Jadinya bikin orang-orang susah nyari alamat.

"Next year I will come here again," begitu katanya setelah selesai transaksi. InsyaAllah ada umur, kita bisa ketemu lagi. aamiin.

Mindset miskin?


Barusan ada ibu OT yang datang ke toko. Saya sapa seperti menyapa customer lain. Ternyata ibu ini bukan customer, tapi mau mengemis. Dia minta dress. Ga saya kasih dong. Saya bilang bahwa ga ada dress ukuran dia. Memang ga ada dress ukuran dia. Eh dia bilang, "bukan untuk saya."
Trus dia nanya asal saya. Setelah tahu saya dari Indonesia, "Nah calon mantu saya orang Indonesia. Saya minta baju buat dia."
Idih kasian amat calon mantunya. akan datang ke "keluarga pengemis".
"Dia bakal bawa baju dari sana," ucap saya.
"Engga. Dia orang miskin," kata si ibu.
Kalo dia mikir si calon mantu orang miskin, sekarang dia sedang berperilaku sebagai orang apa? Minta-minta ke orang lain. Orang miskin aja ga kayak ibu ini kelakuannya.
Kalo memang benar si calon gelin orang miskin ga bisa beli baju, ya calon suaminya dong yang beliin baju buat dia. Ngapain ibu OT ini mengemis baju buat calon gelin, mendingan jangan mendatangkan gelin dari LN. Mahal biayanya tau. Entar harus bikin ikamet, belum lagi biaya hidup yang ajrut-ajrutan harganya.
PENGUMUMAN untuk calon gelin yang akan datang ke alanya, entah siapa dia orangnya. Cari tahu lebih banyak tentang calon suami dan keluarganya. JANGAN sampai jatuh ke keluarga ibu OT yang saya ceritain di atas. AGAR kamu tidak menderita di kemudian hari!!!
rs

35 Comments

I am not pregnant


Kemaren pagi, dua turis (cewe) norwegia belanja di toko saya. Satu langsing dan satu lagi gemuk dengan perut seperti sedang hamil.
Turis yang kurus beli tunik. Dia coba, ok dengan harganya dan bayar duluan. Ketika yang gemuk sedang mencoba longdress di fitting room, yang kurus berlalu keluar. "Saya nunggu di luar aja," katanya.
Kemudian yang gemuk ini keluar dengan longdress yang kegedean.
"Mau coba yang lebih kecil?" Tanya saya.
"Saya ga suka dengan model ini," jawabnya.
"Mau coba longdress winter?" Tanya saya kembali sambil menunjukkan model-moddelnya.
"Ya, saya mau coba itu saja," jawabnya.
"Mau ukuran yang mana?" Tanya saya sambil menjukkan dua ukuran yang lebih kecil dari longdress sebelumnya.
Dia pun memilih yang paling kecil dan membawanya ke fitting room untuk dicoba.
Tak berapa lama dia keluar, "saya suka ini. What do you think?"
"Ya, bagus."
"Kamu jujur kan?"
"Ya. Btw kamu nyaman ga makenya?"
"Ya, karena saya punya ini," jawabnya sambil mengelus perutnya.
"Berapa bulan?"
"I am not pregnant."
"Oh, I am sorry."
"No problem," jawabnya sambil ketawa.
Untung ini turis ga baperan.
"Saya emang sering disangka hamil. Gpp mending disangka hamil aja," ucapnya dan kami pun ngakak bersama.
"Kadang di rumah, saya suka mikir, ini udah berapa bulan ya," ucapnya sambil ngaca di fitting room.
Kami pun ngakak lagi.
Turis ini fix membeli longdress yang baru dicobanya. Transaksi lancar tanpa ada drama menawar.
Dia tunjukkan longdress yang dibelinya pada temannya yang menunggu di luar. Sebelum pergi, kembali mereka mengucapkan terima kasih.
Pas saya beresin baju-baju yang ada di fitting room, ternyata ada sabuk (aksesori longdress) ketinggalan di sana. Untung turisnya masih ada di seberang, jadi masih bisa saya kejar untuk ngasih sabuknya.

Badai Besar

Sejak hari Minggu, badan meteorologi sudah memperkirakan akan terjadi hujan dan badai besar di kawasan Antalya yang dimulai pada Minggu sore hingga Selasa siang. 

Minggu siang saya mencuci pakaian dan menjemurnya di balkon karena matahari terik. Sore hari, hujan mulai berlangsung tapi badai belum nampak. Saya pun memindahkan jemuran yang hampir kering ke dalam rumah. Minggu malam terjadilah badai. Saya cek tanaman di balkon, ternyata sudah pada tergeletak karena kencangnya angin. Saya pun memperbaiki posisi para tanaman supaya berdiri. 

Semalam hujan badai masih berlanjut. Setelah Subuh, angin semakin kencang. Namun hujan hanya gerimis saat itu. Suami pergi ke toko berjalan kaki seperti biasa, tentunya dengan memakai jas hujan dan sepatu boot ala nelayan. 

Pukul 7, saya keluar dari rumah. Keadaan di luar menakutkan. Gelap, hujan dan badai besar. Biasanya saya menunggu di halte depan warung. Pagi tadi karena kondisi seperti itu, saya menunggu di halte dekat rumah. Halte penuh, kebanyakan pelajar. Bus pun datang, kami semua naik satu per satu. Posisi yang belum naik, tetap berada di halte. Lumayan menunggu karena setiap orang harus membayar dengan kartu bus yang ditunjukkan ke mesin. Saya sengaja naik bus paling akhir. 

Bus berjalan sangat lambat karena hujan badai yang sangat besar membuat supir bus harus ekstra hati-hati. Kaca depan bus selalu berembun membuat pudarnya penglihatan supir. Sewaktu di puncak, sebelum melanjutkan perjalanan, supir meminta tolong pada pelajar yang baru naik untuk mengelap embun di kaca depan tersebut. Kemudian perjalanan dilanjutkan.

Jika ada penumpang turun, supir mengelap kaca lagi. Sayangnya ga ada pelajar cowo yang jangkung yang dengan sukarela mau membantu tanpa diminta.

Ketika bus hampir sampai di pusat kota, dapat melihat kota Alanya pagi ini dibuat berantakan oleh badai. Ya seperti biasa setelah terjadi badai pastinya kota jadi berantakan.


Apakah di Turki ada tukang urut?

  jawabannya ADA, disebut ÇIKIKÇI (dibaca: ceu-keuk-ceu). profesi ini bukanlah profesi yang formal dimana terdapat tempat praktek dengan pla...