Showing posts with label covid19. Show all posts
Showing posts with label covid19. Show all posts

Supir bus marah-marah


Sabtu lalu saya pulang naik bus yang pukul 15. Semua penumpang udah menunggu di pintu bus. Supir bus datang langsung sewot lihat banyaknya kereta bayi yang mau ikut naik bus, ada 4 kereta bayi.

"Ini bus untuk orang, bukan untuk kereta bayi," kata supir sewot.
"Suruh ditutup aja kereta bayinya, baru boleh naik," ucap salah satu penumpang.

Peraturan untuk naik bus di Alanya memang seperti itu untuk kereta bayi, harus ditutup agar tidak memakan tempat.

Satu per satu para penumpang naik bus. Ketika naik, langsung gesek kartunya di mesin dekat supir. Sebelum saya naik, ada seorang bapak tua yang ngomong gini ke supir, "pake maskernya."

Eh si supir langsung marah-marah. "Emang kalo saya ga mau pake masker, kamu mau apa? Terserah saya mau pake masker atau kagak."

Si bapak juga ga diem, dia ngelawan omongan si supir. Mungkin niat si bapak cuma mengingatkan, tapi si supir rupanya sedang eror jadinya dia ga terima diingatkan begitu. 

Si supir tambah marah karena si bapa lanjut ngomong. "Ayo kamu turun. Saya ga akan ngejalanin bus ini kalo kamu ga turun. Biarin saya bakal bayar denda," ucap supir sambil matiin kontak dan dia berlalu keluar. Supir duduk di bangku taman dan merokok.

Semua penumpang heboh. Ada yang membenarkan si bapak, ada juga yang menyayangkan kenapa dia ngomong gitu ke supir. Iya sih emang si bapak bener, tapi jadi merugikan semua penumpang. Apalagi bayi-bayi kalo kelamaan di bus jadi rewel.

Ada satu bapak (A) berusaha membujuk supir agar dia mau jalan. Tapi supir keukeuh ga mau jalan kalo si bapak tadi ga turun. Si bapak jg ga mau turun karena merasa dia benar. Si bapak pun (ga tau) nelpon siapa dan menceritakan kejadiannya. Mungkin dia lapor ke pihak terkait, entahlah. Salah satu penumpang jg menyarankan untuk lapor polisi saja.

Semua penumpang bermasker kecuali ada satu bapak tidak pake masker. "Kamu kenapa tidak pake masker? Lihat yang lain pake masker semua," tanya salah satu penumpang.
"Ya saya lupa dan ga bawa masker pula," jawab si bapak.
"Kamu turun dulu beli masker di apotek."
"Ada yang punya masker lebih ga?"
"Nih saya punya," ucap saya sambil ngasih masker.

Si bapak A kembali berusaha untuk ngebujuk supir supaya mau jalan dan akhirnya berhasil.
"Sebenernya saya ga mau jalan kalo dia ga turun, tapi ok lah," kata supir sambil berlalu ke tempatnya. Supir pun menyetir setelah memakai maskernya.

Euhhh atuh kalo mau pake masker mah kenapa pake marah-marah segala. Bilang aja mau ngerokok dulu di luar huhhh
Lumayan tuh, ada kali 10 menitan terlambat maju busnya.

Pemeriksaan kelengkapan perang melawan covid 19



Tadi ada zabita (satpol PP) datang untuk memeriksa kelengkapan perang melawan covid19. Dia bilang ada 10 peraturan yang harus diikuti oleh setiap pemilik toko.
"Mba, kamu siapkan kertas dan pulpen untuk mencatat yang diperlukan. Semuanya ada 10. Nanti yang belum ada, dicatat dan segera dilengkapi ya. Saya ga mau ujug-ujug ngasih denda," kata si abang zabita.
Ok, saya pun segera mengeluarkan agenda untuk menuliskan yang diperlukan.
Yang pertama disebutkan adalah alat pemeriksa suhu tubuh. Saya menuliskannya karena belum punya. Dan si abang pun menyebutkan yang lainnya. Saya tulis yang belum ada dan saya bilang sudah ada jika memang sudah ada di toko.
Ternyata 3 hal yang belum ada di toko saya, yaitu: alat pemeriksa suhu tubuh, stiker jarak untuk di lantai (beli di toko stationery) dan tulisan kapasitas berapa orang di dalam toko (ini bisa donlod di web pemkot).
Petugas zabita memotret surat izin usaha yang terpajang di dinding dan membubuhkan stempel toko di kertas yang dibawanya (sudah banyak cap stempel toko lain di kertas tersebut). Kemudian menuliskan no npwp suami yang tertera di cap tersebut.
"Ok mba, untuk 3 hal yang belum ada tadi untuk dilengkapi ya. Semoga pandemi ini segera berakhir," ucapnya sembari keluar dari toko.
Setelah zabita keluar, saya segera menelpon suami untuk menyampaikan hal ini.
"Ok, saya telepon kırtasiye (toko stationery) buat nanyain stiker itu," ucap suami.
Tak lama kemudian suami meminta saya pergi ke kırtasiye yang berada di seberang untuk membeli stikernya. Saya pun pergi ke sana untuk membeli stiker seperti pada gambar. Ketika nyampe toko stationery, ada seorang cowo sedang membeli stiker jarak juga.
Untuk alat pemeriksa suhu tubuh akan dibeli online dan ...
Baru inget kalo saya pernah donlod tulisan kapasitas itu.

Masker dan Orang Bebal


Menurut KBBI:
bebal/be·bal/ a sukar mengerti; tidak cepat menanggapi sesuatu (tidak tajam pikiran); bodoh;
kebebalan/ke·be·bal·an/ n kebodohan.
Jadi sepakat, bahwa bebal = bodoh. Orang bebal = orang bodoh.
Selama pandemi ini, saya pergi ke toko pukul 7:30 atau 10:00. Dan pulang pukul 17:00. Setiap naik bus jam segitu, pasti ada orang-orang yang sama (langganan) karena bekerja dan ada orang-orang yang berbeda.
Kalau saya pergi pukul 7:30 dan pulang 17:00, selalu barengan satu orang bodoh (laki-laki). Orang ini tidak mau pake masker. Jika diberitahu orang lain, pasti sewot.
Ada beberapa supir yang tegas memperingatkan orang ini, tapi ada juga supir yang ga peduli. Padahan di pintu masuk bus dipasang stiker "Demi kesehatan kita semua, dilarang masuk tanpa masker". Ada juga penumpang yang tegas pada orang ini.
Suatu waktu, orang ini masuk bus tanpa masker, si supir diam tapi sepertinya udah ngedumel. Di perjalanan, orang ini ngoceh aja dan si supir merasa digurui olehnya. Di tengah perjalanan, supir mengusir orang ini dari busnya. Supir memohon maaf pada penumpang yang lain karena peristiwa ini. Asalnya saya ga ngeh kenapa supir mengusir si orang bodoh ini. Beberapa hari kemudian, bapak gendut (langganan juga suka bareng), ngobrol sama supir yang lain tentang kejadian ini. Baru deh saya tahu alasan si supir mengusir orang ini.
Pandemi belum berakhir, korban positif di Alanya bertambah. Bahkan walikota Alanya pun baru-baru ini dikabarkan menjadi korban positif juga. Orang bodoh ini terlihat makin tidak peduli dengan keadaan pandemi ini.
Setiap pulang pukul 17:00, keadaan bus selalu penuh. Apalagi hari Kamis dan Jumat, Bus pasti penuh sesak karena banyak orang yang pulang dari pasar Jumat. Dan orang bodoh ini, lagi dan lagi ga pake masker. Dengan cueknya dia ngunyah permen karet di dalam bus dan meniup permen karet itu menjadi balon dan mengunyahnya lagi. Ketika diperingatkan untuk memakai masker, orang ini selalu berkomentar seperti ini: "Kalian ini berlebihan. Kalau udah waktunya mati ya mati aja."
Semua orang di dalam bus yang penuh sesak itu memakai masker, dan cuma dia yang bodoh ga pake masker. Semua orang ikut bicara agar si bodoh memakai masker. Dengan terpaksa dia pakai masker. Tapi tak lama kemudian, dia turunkan maskernya sampe ke dagu.
Supir yang tegas, sebelum dia naik, pasti disuruh pakai masker dulu. Supir ini tak mengizinkan dia masuk tanpa masker. Kalau dia maksa masuk tanpa masker, supir ini tak akan mengoperasikan bus sampe si bodoh ini pake masker.
Tadi, saya pergi naik bus jam 10. Orang bodoh ga ada karena dia pergi jam 7:30. Tapi ada bapak gendut. Si bapa gendut ngobrol sama supir tentang orang bodoh ini. Semoga saja semua supir bisa bertindak tegas sama orang bodoh ini. Semua penumpang yang barengan udah muak sama si bodoh. Kita maunya si bodoh ga boleh masuk bus lagi. Tapi apa boleh buat, keputusan ada di tangan supir.
Semoga pandemi coivd19 ini segera berakhir.
Stay safe everyone

Babak belur dan doa yang terkabul


Kemarin, saya mulai pergi ke toko lagi. Tidak niat untuk jualan tapi untuk bebersih dan beberes saja plus karena kargo akan datang.
Pergi dari rumah jalan kaki, pulang pun terpaksa jalan kaki.
Pukul 10 pagi, saya keluar dari rumah. Baru sampe kaki bukit (kurleb 1 km), kaki saya udah terasa pegal. Padahal masih 3 km lagi menuju toko di pusat kota.
Ini akibat kelamaan diam di rumah, jadi sekalinya berjalan jauh, langsung pegal pegal. Saya sih tidak komplen berlama lama diam di rumah, karena saya anak rumahan sejati.
Pukul 10.40an, sampailah saya di toko. Masuk toko lalu buka toko seperti biasa.
Sembari menunggu suami dan kargo, saya membereskan baju baju winter. Saya pun membersihkan etalase tempat kerudung.
Sesaat sebelum suami datang, kargo datang membawa stok barang. Sesaat kemudian, suami datang.
Ketika suami datang, dia langsung beberes dan bebersih, saya membantunya sedikit saja. Kemudian saya pergi ke minimarket untuk belanja kebutuhan dapur.
Pukul 5 kurang 17 menit, suami menawari saya pulang (naik bus pukul 5). Saya beli sesuatu dulu, lalu segera pergi ke terminal. Di sana sudah ada 5 orang yang menunggu. Setelah pukul 5 lebih, busnya tidak kunjung datang. Saya balik lagi ke toko. Suami menelpon muhtar (setara lurah) untuk menanyakan hal ini. Ternyata fix kemaren tidak ada bus yang beroperasi ke daerah rumah saya. Para supir busnya menganggap kalo weekend lockdown. Padahal di alanya sudah tidak ada lockdown. Bus jurusan lain beroperasi kok.
Suami yang tadinya berniat pulang naik bus terakhir (pukul 7), segera menutup toko pukul 5.30. Kami pun pulang jalan kaki. Sepanjang jalan saya mengeluh sakit kaki. Suami udah ngejek aja.
Ketika keluar dari underpass di kaki bukit, kaki saya udah ga bisa kompromi. Rasanya saya udah babak belur. Melihat jalan menanjak menuju rumah, saya udah nyerah. Saya berdoa pada Allah. "Ya Allah, semoga ada orang yang ngajak naik mobilnya."
Kemudian ada mobil berhenti di depan kami. "Ga pa pa ya Allah jika yang di mobil itu ngajak." Lanjut saya dalam hati.
Si pengemudi yang sedang berbicara di telepon melihat ke saya dan memberi kode untuk memberi tahu suami saya.
"Kayaknya saya kenal orang ini," gumam saya dalam hati sambil saya memberi tahu suami untuk melihat si pengemudi.
Ternyata benar saja, dia anaknya paman suami. Kami pun diajaknya untuk ikut di mobilnya.
Alhamdulillah ya Allah. Doa saya langsung dikabulkan


Turun Gunung dan Pegal-pegal



Setelah 3 minggu lamanya tidak keluar rumah (sejak 1 april stay at home), 2 hari lalu baru keluar rumah lagi. Saya harus turun gunung untuk ke minimarket. Turun gunung di sini bukan bermakna konotasi, tapi makna sebenarnya. Rumah saya berada di atas bukit, dekat rumah ada sih warung seperti minimarket (lumayan lengkap barangnya) tapi yang saya butuhkan tidak ada di sana. Jadinya harus ke minimarket yang berada di kaki bukit, jaraknya kurleb 1km.

Saya dan istrinya adik ipar berjalan kaki menuju ke minimarket. Jalannya menurun, separuhnya menuruni tangga "seribu". Pulang dari minimarket, ogah jika harus jalan kaki, nanjak bo. Kami menunggu bus yang keluar dari terminal pukul 17:00.

Dari rumah, kami keluar pukul 15:00. Jalan kaki beberapa menit untuk sampai di kaki bukit. Terdapat 2 minimarket di sana. Kami masuki dua-duanya. Masuk ke dalam minimarket harus menggunakan masker, Jadinya tidak sanggup untuk berlama-lama di dalam. Dengan gesit mengambil apa-apa yang dibutuhkan, lalu mengantre di kasa dan cepat keluar. Ini menyebabkan kami harus menunggu bus selama kurleb 1 jam. 

Alhamdulillah, kegiatan belanja hari itu berjalan lancar, meskipun rada parno akan covid19. Tapi, kaki saya pegal-pegal sampe sekarang. 

Besok di Turki akan mulai puasa Ramadan, barusan pun sudah terdengar 3x dentuman meriam sebagai tanda memasuki bulan Ramadan. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan:
Selamat berpuasa bagi teman-teman Muslim di seluruh dunia.

Semoga pandemi covid19 ini segera berlalu dan kita pun dapat beraktivitas normal kembali, aamiin

Pulang dari toko tadi sore



Seperti biasa (sejak senin), saya tutup toko pukul 15:40, untuk naik bus yang pukul 16:00. Pergi dari toko pukul 15:50, jalan kaki ke terminal 2-3 menit. Ketika nyampe terminal, ternyata ada jadwal baru jam operasi bus yang ke daerah rumah.

"Mba, harus nunggu bus yang pukul 5," ucap seorang bapak yang saya kenal.
"Pukul 4 ga ada," tambahnya.

"Apa? Jadi 2 jam sekali?" tanya saya kaget.

"Ga tau deh. Liat aja di situ," jawab si bapak sambil nunjuk jadwal yang ditempel di halte.

Saya menuju halte sebelah dan melihat jadwal yang ada di sana tanpa melihat tanggalnya. Di sana masih tertulis jadwal pukul 16:00.

Kemudian datang mba tetangga depan rumah yang sama sama akan naik bus. Dia kaget dengan jadwal baru ini. Sedangkan saya masih bingung dengan jadwal pukul 4 yang kata si bapa ga ada tapi ada tertulis di halte ini.

Si mba tetangga nanya nanya ke si bapa dan melihat jadwal di halte itu. Lalu saya pun ke halte itu dan melihat jadwalnya. Ternyata di jadwal itu tertulis tanggal hari ini. Seperti yang terlihat di foto, jadwal bus ke daerah rumah saya adalah yang tengah, yaitu 2 jam sekali. Yang di kanan kiri lebih parah, cuma sehari 2 kali.

Saya dan mba tetangga memutuskan untuk pergi ke halte pertama setelah terminal. Saya bertujuan ke minimarket yang ada di sana. Sewaktu di terminal, si mba nelpon suaminya untuk menjemput di halte ini. Saya pun diajaknya untuk pulang bareng. Alhamdulillah bisa pulang cepat tanpa harus menunggu bus pukul 5.

Ga tau deh besok besok ada perubahan jadwal lagi atau tetap seperti ini.

Semoga wabah covid19 segera berlalu, aamiin.

Stay safe everyone 

Perjalanan Pagi Ini


Hari ini saya pergi ke toko agak siangan, naik bus yang pukul 10 (lewat rumah pukul 10:15).
Ketika naik, ada 2 penumpang laki-laki. Mereka turun saat bus sudah menuruni bukit. Setelah itu, ada nenek jompo melambaikan tangan di salah satu halte. Supir bus tidak berhenti untuk si nenek, alias terus melaju saja. Di halte lain, ada kakek jompo yang melambaikan tangan juga. Supir bus tetap melaju.
Ini orang-orang yang telah berusia 65+, ngapain ke luar rumah? Sudah diumumkan di TV bahwa mereka dilarang keluar rumah. Bahkan Pemkot Alanya mengumumkan setiap hari yang diperdengarkan via speaker yang terdapat di setiap perumahan.
Di TV juga diberitakan bahwa kaum jompo ini banyak yang membandel. Mereka tetap kongkow di taman-taman kota. Bahkan di salah satu kota, para petugas pemkot membongkar bangku-bangku yang suka digunakan untuk duduk-duduk di mana pun agar para jompo tidak kongkow di sana.
Alhamdulillah sampe terminal selamat sentosa dengan penumpang yang tidak bertambah.
Stay safe untuk semuanya di mana pun berada.
Semoga Allah selalu melindungi kita semua, aamiin.
Saya yakin, ada hikmah di balik wabah covid19 ini. Allah telah merencanakan sesuatu yang indah untuk kita semua

Pagi pagi udah keder


Setelah subuh (pukul 6 lebih dikit) tidur lagi, niatan akan bangun pukul 7. Karena hari ini harus pergi lebih awal.
Semalam supir bus bilang bahwa bus yang beroperasi jam pertengahan tidak akan ada. Semuanya hanya yang awal jam aja yang beroperasi. Jadi hanya sejam sekali. Kebijakan ini diambil karena wabah covid19 yang sedang berjangkit. Kapan akan beroperasi normal kembali bus ini? Katanya sih ga tau sampai kapan.
Tiap pagi biasanya saya keluar dari rumah pukul 8.30, untuk naik bus yang lewat pukul 8.45 (bus ini keluar dari terminal sama kayak saya keluar dari rumah yaitu 8.30).
Nah hari ini saya harus naik bus yang keluar dari terminal pukul 8.00. Akan lewat rumah saya pukul 8.15.
Saya kebangun pukul 6.37. Yang terpikir itu 7.37. Saya langsung bangun siap siap untuk ke toko. Aduh, mana cucian piring numpuk di dapur. Anak dipanggil panggil ga bangun aja, padahal mau dikasih instruksi.
Saya niat mau sarapan, ngambil sisa nasgor semalam di rice cooker. Pas lihat jam di hp, 7.01. Eh kok masih jam segini. Yaaa masih punya waktu sejam lagi ternyata. Haduh hampir aja saya kepagian nunggu bus
Sarapan ditunda dulu, beresin dulu dapur, baru sarapan. Pukul 8 teng, keluar rumah untuk nunggu bus di halte.
Sesampai di toko, karena masih pagi, saya ke minimarket dulu untuk belanja. Mau beli makroni, raknya udah kosong. Pada ngeborong makroni rupanya. Beli beli yang lain plus coklat 3 biji. Udah beres bayar terus balik lagi ke toko. Pas di toko periksa barang yang dibeli, eh itu coklat 3 biji ketinggalan di minimarket. Balik lagi ke sana, langsung masuk lewat jalan keluar. Si kasirnya udah tau kalo saya ketinggalan coklat. Duh pagi pagi udah keder begini.

Apakah di Turki ada tukang urut?

  jawabannya ADA, disebut ÇIKIKÇI (dibaca: ceu-keuk-ceu). profesi ini bukanlah profesi yang formal dimana terdapat tempat praktek dengan pla...