Kemarin, saya mulai pergi ke toko lagi. Tidak niat untuk jualan tapi untuk bebersih dan beberes saja plus karena kargo akan datang.
Pergi dari rumah jalan kaki, pulang pun terpaksa jalan kaki.
Pukul 10 pagi, saya keluar dari rumah. Baru sampe kaki bukit (kurleb 1 km), kaki saya udah terasa pegal. Padahal masih 3 km lagi menuju toko di pusat kota.
Ini akibat kelamaan diam di rumah, jadi sekalinya berjalan jauh, langsung pegal pegal. Saya sih tidak komplen berlama lama diam di rumah, karena saya anak rumahan sejati.
Pukul 10.40an, sampailah saya di toko. Masuk toko lalu buka toko seperti biasa.
Sembari menunggu suami dan kargo, saya membereskan baju baju winter. Saya pun membersihkan etalase tempat kerudung.
Sesaat sebelum suami datang, kargo datang membawa stok barang. Sesaat kemudian, suami datang.
Ketika suami datang, dia langsung beberes dan bebersih, saya membantunya sedikit saja. Kemudian saya pergi ke minimarket untuk belanja kebutuhan dapur.
Pukul 5 kurang 17 menit, suami menawari saya pulang (naik bus pukul 5). Saya beli sesuatu dulu, lalu segera pergi ke terminal. Di sana sudah ada 5 orang yang menunggu. Setelah pukul 5 lebih, busnya tidak kunjung datang. Saya balik lagi ke toko. Suami menelpon muhtar (setara lurah) untuk menanyakan hal ini. Ternyata fix kemaren tidak ada bus yang beroperasi ke daerah rumah saya. Para supir busnya menganggap kalo weekend lockdown. Padahal di alanya sudah tidak ada lockdown. Bus jurusan lain beroperasi kok.
Suami yang tadinya berniat pulang naik bus terakhir (pukul 7), segera menutup toko pukul 5.30. Kami pun pulang jalan kaki. Sepanjang jalan saya mengeluh sakit kaki. Suami udah ngejek aja.
Ketika keluar dari underpass di kaki bukit, kaki saya udah ga bisa kompromi. Rasanya saya udah babak belur. Melihat jalan menanjak menuju rumah, saya udah nyerah. Saya berdoa pada Allah. "Ya Allah, semoga ada orang yang ngajak naik mobilnya."
Kemudian ada mobil berhenti di depan kami. "Ga pa pa ya Allah jika yang di mobil itu ngajak." Lanjut saya dalam hati.
Si pengemudi yang sedang berbicara di telepon melihat ke saya dan memberi kode untuk memberi tahu suami saya.
"Kayaknya saya kenal orang ini," gumam saya dalam hati sambil saya memberi tahu suami untuk melihat si pengemudi.
"Kayaknya saya kenal orang ini," gumam saya dalam hati sambil saya memberi tahu suami untuk melihat si pengemudi.
Ternyata benar saja, dia anaknya paman suami. Kami pun diajaknya untuk ikut di mobilnya.
Alhamdulillah ya Allah. Doa saya langsung dikabulkan
No comments:
Post a Comment