Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Turun Gunung dan Pegal-pegal



Setelah 3 minggu lamanya tidak keluar rumah (sejak 1 april stay at home), 2 hari lalu baru keluar rumah lagi. Saya harus turun gunung untuk ke minimarket. Turun gunung di sini bukan bermakna konotasi, tapi makna sebenarnya. Rumah saya berada di atas bukit, dekat rumah ada sih warung seperti minimarket (lumayan lengkap barangnya) tapi yang saya butuhkan tidak ada di sana. Jadinya harus ke minimarket yang berada di kaki bukit, jaraknya kurleb 1km.

Saya dan istrinya adik ipar berjalan kaki menuju ke minimarket. Jalannya menurun, separuhnya menuruni tangga "seribu". Pulang dari minimarket, ogah jika harus jalan kaki, nanjak bo. Kami menunggu bus yang keluar dari terminal pukul 17:00.

Dari rumah, kami keluar pukul 15:00. Jalan kaki beberapa menit untuk sampai di kaki bukit. Terdapat 2 minimarket di sana. Kami masuki dua-duanya. Masuk ke dalam minimarket harus menggunakan masker, Jadinya tidak sanggup untuk berlama-lama di dalam. Dengan gesit mengambil apa-apa yang dibutuhkan, lalu mengantre di kasa dan cepat keluar. Ini menyebabkan kami harus menunggu bus selama kurleb 1 jam. 

Alhamdulillah, kegiatan belanja hari itu berjalan lancar, meskipun rada parno akan covid19. Tapi, kaki saya pegal-pegal sampe sekarang. 

Besok di Turki akan mulai puasa Ramadan, barusan pun sudah terdengar 3x dentuman meriam sebagai tanda memasuki bulan Ramadan. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan:
Selamat berpuasa bagi teman-teman Muslim di seluruh dunia.

Semoga pandemi covid19 ini segera berlalu dan kita pun dapat beraktivitas normal kembali, aamiin

Tarawih di sini ga bagus


"Where are you from?" tanya saya pada turis lelaki yg melihat lihat baju utk ibunya.
"Saya lahir di beirut. Asal dari palestina. Di sini saya tinggal di apartment," jawabnya.
"Kamu tinggal di negara mana?" tanya saya kembali.
"Di sweden. Di sana puasanya lama. Jadi saya datang ke sini aja utk puasa supaya ga terlalu lama," jawabnya sambil memperlihatkan jadwal puasa di smartphone nya. Imsak pukul 2an dan maghrib hampir jam 10 malam. Solat isya jam 23:30-an.
"Tapi taraweh di sini ga bagus," tambahnya.
"Kenapa?"
"Terlalu cepat. Tidak bagus itu. Kami biasanya taraweh 8 rakaat (tanpa witir). Setiap taraweh imam membaca satu juz. Tapi di sini terlalu cepat. Taraweh itu kita harus mendengarkan bacaan quran imam hingga meresap ke hati. Waktu di maroko, masyaallah sangat bagus. Satu juz. Memang lama, tapi meresap ke hati."

Our grand daughter is muslim


Barusan saya kedatangan turis (non muslim sepertinya) yang belanja tunik utk cucunya yg muslim.
"can I help?" tanya saya.
"ya. Our grand daughter is muslim. We want to buy dress for her for Eid," jawab kakek turis.
Sebelumnya saya tanya ukuran badannya agar saya bisa menunjukkan ukuran yang tepat.
"She likes black," tambahnya.
Saya pun menunjukkan tunik hitam beberapa model sesuai ukurannya. Mereka pun memilih salah satunya. Saya tunjukkan lagi yg modelnya polos.
"This is for Eid. It must be nice model," katanya sambil memilih model yang pertama.
Mereka menanyakan harganya, saya pun menyebutkan harga normalnya.
"Untuk sekarang kami beli satu ini dulu," katanya sambil menyerahkan tunik hitam yang dipilihnya.
Sebetulnya mereka masih ingin memilih model lain untuk orang yg lebih dewasa dan lebih kecil tapi sepertina mereka dikejar waktu. Keluarganya menunggu di sebrang toko saya.
Saya bungkus tuniknya. Lalu si kakek mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Berapa itu?" tanya si nenek, yang mengingatkan bahwa uangnya masih kurang 10 lira.
Saya mendengarnya, lalu saya bilang, "its ok, thats enough."
Saya pun menyerahkan kantong berisi tunik dan sebuah kartu nama secara terpisah. Siapa tahu balik lagi untuk belanja 
Tidak berapa lama, mereka datang lagi. Namun sayang, yang mereka hendak beli, tidak ada di toko saya. mereka mencari pakaian untuk anak usia 8 tahun. Saya pun menunjukkan toko untuk pakaian anak yang berada di seberang toko.


Kenapa Pakai Mukena?

"Kamu kok pake baju lagi (maksudnya mukena), kan baju kamu sudah tertutup?" tanya seorang teteh pedagang pasar jumat sewaktu mau solat duhur di mushola.
"Kita kan solat ini istilahnya bertemu dengan Allah. Nah, harus pake baju bagus donk kalo ketemu Allah. Kalian aja kalo mau ke kawinan beli baju baru. Itu cuman ketemu manusia lo. Ini ketemu Allah, masa pake baju biasa sih," jawab saya sambil bisik bisik karena takut mengganggu orang lain yang sedang solat.
"Bener juga ya. Kita ga kepikiran sejauh itu," ucap si teteh pada teman pedagang yang lain.

Ceria Ramadhan Best Seller


Alhamdulillah buku ini dalam masa PO sudah tembus 20ribu order.
Terima kasih untuk para pemesan.

Tentunya ini adalah hasil dari kerjasama tim yang solid. Para kontributor, penerbit, dan reseller. Terima kasih semua.

Bagi yang belum order, masih bisa order kok. Karena telah dibuka PO tahap kedua.

#BestSeller
#BestSellingBook
#BestSellerBook
#BestSellerChildrenBook



Semangat Menyambut Ramadhan dengan Ceria Ramadhan

Alhamdulillah dapat berkontribusi untuk menulis buku ini. Semoga buku ini dapat memberikan banyak manfaat bagi para pembacanya.
Lagi lagi alhamdulillah, dalam masa PO ini order buku sudah tembus belasan ribu eksemplar.
Buku ini siap menjadi teman Ramadan anak anak Indonesia.
Semangat menyambut Ramadan.
Thx to mak Efa (udah curcol dan jadi buku ini), neng Nova, Icha, mba Yeni (untuk vidionya), mba Diah, mba Mimie, mba Hera, mba Rara, mba Febri, mba Dian Ikha, mba Utami, mba Riana, mba Dery, mba Wulan, mba Alia, mba Tita, mba Ida, mba Nita, mba Sri, mba Adhya, mba Muyassaroh, mba Anindita, mba Yeti, mba Dian Restu.


Indahnya Ramadan di Turki - artikel di eramuslim.com -

link: http://www.eramuslim.com/berita/ramadhan-mancanegara/ramadan-di-mancanegara-indahnya-ramadan-di-turki.htm

*****

marhaban ya ramadhan.
bertemu lagi dengan ramadhan-Nya di tahun ini.
di setiap negara berbeda2 tradisinya, begitu pula dengan di turki.
silakan klik linknya untuk mengetahui sedikit informasi tentang tradisi ramadhan di turki yang saya tulis dan dimuat di eramuslim.com

ramadhan mubarak dari alanya
-dian-

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Indahnya Ramadan di Turki

Tidak terasa, Ramadan kembali datang. Tahun ini adalah Ramadan keempat selama saya tinggal di Turki, tepatnya di kota Alanya, provinsi Antalya yang berada di pesisir laut Mediterania.

Awal ramadhan di Turki tahun ini bertepatan dengan berakhirnya musim panas yang akan berganti dengan musim gugur. Pada musim gugur, waktu siang di Turki pendek sehingga adzan Maghrib-yang menandai berbuka puasa-juga lebih cepat sekitar pukul 19.30. Berbeda jika Ramadan bertepatan dengan musim panas, waktu siang akan sangat panjang sehingga waktu berbuka biasanya jatuh pada pukul 21.00.

Suasana Ramadan sudah terasa di kalangan masyarakat Turki sejak dua sebelum awal Ramadan. Di supermarket-supermarket sudah ada diskon Ramadan untuk bahan-bahan sembako dan barang lainnya, iklan-iklan di tv sudah bernuansakan Ramadhan, begitu pula dengan iklan tentang program-program Ramadan yang akan ditayangkan selama bulan Ramadan di televisi Turki.

Hampir sama dengan Indonesia, televisi-televisi Turki juga menyiarkan banyak acara Islami. Misalnya, saat menunggu waktu iftar (berbuka puasa) ditayangkan khutbah-khutbah penyejuk hati dari ustadz-ustadz ternama di Turki seperti Ustadz Fethullah Gülen. Begitu juga ketika waktu sahur, televisi-televisi menayangkan aneka acara untuk menemani masyarakat Turki santap sahur. Suasana seperti membuat saya merasa seperti di indonesia. Meskipun, tidak sedikit tayangan yang tidak Islami tetap tayang di bulan Ramadan dan banyak artis-artis turki yang tetap mengumbar auratnya di bulan yang suci ini. Tapi, itulah suka duka ber-Ramadan di negeri lain.

Karena di Turki banyak masjid, masyarakat bisa dengan mudah mengetahui waktu berbuka puasa lewat adzan maghrib yang dikumandangkan lewat masjid-masjid. Seperti halnya di Indonesia, pada malam hari masjid-masjid di Turki dipenuhi oleh orang-orang salat tarawih.

Alhamdulillah, saya tinggal di negara yang mayoritas penduduknya muslim dan suasana Ramadan di Turki tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Yang agak berbeda, hanya tradisi dari sajian makanan di Turki selama bulan Ramadan.

Di Turki tidak ada sajian istimewa untuk berbuka, seperti kolak yang menjadi makanan khas pada bulan Ramadan. Ketika waktu berbuka tiba, masyarakat Turki biasa langsung makan makanan berat. Kecuali jika ada kurma, barulah berbuka dimulai dengan makan kurma. Sedangkan minumannya, masyarakat Turki lebih suka minum teh saat berbuka maupun saat sahur.

Di sini juga tidak ada tukang jualan dadakan untuk sajian berbuka, seperti yang terjadi di Indonesia setiap bulan Ramadan. Tapi ada makanan yang boleh dibilang istimewa di Turki pada bulan Ramadan, yaitu Roti Pide yang bentuknya bundar dan bertabur wijen. Roti Pide ini hanya ada dijual di bulan Ramadan, dimakan sebagai panganan untuk berbuka dan untuk menu sahur.

Selain Roti Pide, makanan lainnya yang biasa disantap saat sahur oleh masyarakat Turki adalah Makarna (makaroni) atau Pılav (nasi Turki) dan yang spesial adalah Hoşaf (komposto).

Hoşaf adalah manisan buah-buahan. Buah-buahan yang dapat dibuat Hoşaf antara lain: apel, aprikot, peach, pear, anggur, berry, ayva. Keluarga saya di Turki, termasuk saya sendiri lebih suka membuat Hoşaf apel. Biasanya Hoşaf dibuat sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadan dalam jumlah yang cukup banyak, lalu didinginkan di lemari es. Jika pertengahan Ramadhan Hoşaf sudah habis maka akan dibuat lagi hoşaf yang baru.

Saat Ramadan tiba, akan banyak sekali iklan permen dan coklat di televisi-televisi Turki, apalagi menjelang lebaran nanti, permen dan coklat pasti menjadi produk yang laris manis. Toko-toko pakaian juga banyak yang 'diserbu' pembeli, karena ternyata tradisi baju baru untuk lebaran, juga menjadi tradisi masyatakat Turki. Mereka biasanya berbelanja usai salat Tarawih.

Alanya, kota tempat saya tinggal adalah kota wisata yang digandrungi para turis dari Eropa, terutama di musim panas. Karena Ramadan tahun ini udara Alanya masih hangat, para turis tetap ramai hingga akhir musim gugur nanti. Karena kota wisata, di Alanya restoran-restoran tetap buka seperti biasa di siang hari pada bulan Ramadan.

Di seluruh Turki yang kental dengan mazhab Hanafinya, salat tarawih dilaksanakan 20 rakaat dan di antara sepuluh malam terakhir Ramadan, masyarakat Turki mengenal malam yang disebut “kadir gecesi (malam kadir)” yaitu malam diturunkannya al-Qur'an.

Begitulah suasana Ramadan di kota Alanya, Turki. Ada persamaan dan perbedaannya dengan suasana Ramadan di tanah air. Ramadhan Mubarak dari Alanya...

Apakah di Turki ada tukang urut?

  jawabannya ADA, disebut ÇIKIKÇI (dibaca: ceu-keuk-ceu). profesi ini bukanlah profesi yang formal dimana terdapat tempat praktek dengan pla...