Tersesat di Labirin Tophane

Tophane adalah nama sebuah kelurahan yang berlokasi di tebing semenanjung berbatu yang menjorok ke laut. Jika berjalan menyusuri jalan-jalan di Tophane terus ke arah atas, maka Anda dapat sampai di Alanya Castle. Tophane ini karena letaknya di tebing, maka tebing ini dibentuk berumpak-umpak seperti halnya terasiring pesawahan di Indonesia. Hanya saja umpak-umpak ini isinya rumah penduduk, bukan sawah untuk menanam padi. Jalan-jalan di dalamnya sempit, hanya cukup untuk berjalan dua orang berdempetan. Mobil tidak bisa masuk ke sini. Dengan jalan-jalan yang sempit dan hampir sama satu dan lainnya, maka saya menyebutnya labirin.

Kelurahan Tophane


Beberapa kali saya tersesat di jalan-jalan tersebut ketika menyambangi Tophane dalam misi ingin mengunjungi masjid bersejarah. Tahun lalu, Tahta Minareli Camii (masjid Tahta Minareli–bermenara kayu) yang merupakan masjid bersejarah selesai direstorasi dan dibuka kembali untuk umum. Saya tertarik untuk mengunjungi masjid ini. Setahu saya sebelumnya, di Tophane ada masjid yang bernama Andızlı camii. Andızlı camii juga merupakan masjid bersejarah. Saya pikir kedua masjid ini adalah masjid yang sama.

Masjid Andizli

Hari Minggu yang cerah menjelang siang sepulang dari Alanya Castle, saya dan anak sengaja jalan kaki melalui kelurahan Tophane. Baru pertama kali ini saya menjejakan kaki di daerah Tophane, padahal ini adalah tahun kesembilan saya tinggal di Alanya, kota di pesisir laut Mediterania, provinsi Antalya, di selatan Turki. Saya tidak mengetahui bahwa jalan-jalan di Tophane mirip satu sama lainnya, seperti labirin. Saya susuri jalannya hingga ke ujung, tapi tak terlihat adanya menara. Kemudian turun menyusuri jalan yang lainnya. Terlihat ada seorang bapak sedang berkebun di halaman rumahnya, saya pun menanyakan lokasi masjid pada si bapak. “Pardon, cami nerede?” (Maaf, masjid di sebelah mana?). Saya tidak menyebutkan nama masjidnya, karena saya pikir hanya ada satu masjid di Tophane. Si bapak pun berusaha menunjukkan arah ke tempat masjid terdekat. “Turun saja ke bawah sini, kira-kira 50 meter,” sambil menunjukkan jarinya ke arah bawah. Setelah mengucapkan terima kasih, kami pun turun ke arah yang ditunjukkan oleh bapak tadi.

Ruangan Masjid Andizli

Barulah terlihat menara masjid yang cukup tinggi. Saya hampiri menara tersebut untuk mengambil foto. Tapi di menara itu tak ada unsur kayunya. Kami ke bawah lagi, dan di sana rupanya pintu masuk masjid. Di tembok dekat pintu masjid tertera tulisan “Merkez Andızlı Camii – Yapım Tarıhi 1277”– yang berarti masjid Andızlı ini dibangun pada tahun 1277. Kami masuk ke dalam masjid, dan saat itu sedang adzan Dhuhur. Di dekat pintu masuk ada tangga ke atas. Ternyata, di ruangan atas adalah tempat shalat untuk wanita. Meski demikian, tempat untuk berwudhu tetap di bawah. Saya melaksanakan shalat sendiri, dan ruangan bawah juga sepi, hanya ada ada dua orang laki-laki yang sedang shalat berjamaah. Keluar dari masjid, ada bapak yang tadi menjadi makmum sedang duduk di teras. Saya bertanya pada beliau tentang masjid ini. “Merhaba, bu cami Tahta Minareli camii mı?” (Apakah benar ini masjid Tahta Minareli?). “Oh bukan, ini Andızlı camii. Ini juga masjid bersejarah peninggalan Selçuk yang dibangun oleh Emir Bedrüddin. Masjid ini juga disebut masjid Emir Bedrüddin. Kalau masjid Tahta Minareli di sebelah sana,” jelas si bapak sambil menunjukkan jarinya. 

Masjid ini disebut Andızlı camii karena terdapat pohon andız di dekatnya. Andız dalam bahasa latin adalah Juniperus drupacea sedangkan dalam bahasa Inggrisnya disebut Syrian Juniper. 

Tempat berwudhu di Masjid Andizli

“Saya juga mau ke masjid itu tapi sedang menunggu imam yang mau memberikan kuncinya. Tapi hari ini (Minggu) tutup, kalau hari biasa dibuka setiap waktu shalat,” tambahnya. Setelah mengucapkan terima kasih atas penjelasannya, kami pun melangkah keluar masjid dan menuruni tangga menuju ke jalan di bawah. Ternyata di bagian bawah bangunan masjid ini adalah kantor kelurahan Tophane. Saya menyusuri jalan yang tadi ditunjukkan oleh jari si bapak. Tapi bapak tadi tidak bilang ke arah mana, padahal di sana terdapat persimpangan. Ada jalan ke bawah dan ada jalan ke atas. Saya yang sok tau, mengambil jalan ke bawah dan ternyata kesasar.

Masjid Tahta Minareli

Akhirnya saya naik ke jalan yang di sebelah atas dan bertanya ke seorang bapak yang sedang parkir motor di sana. “Pardon, Tahta Minareli camii nerede?” (Maaf, masjid Tahta Minareli di mana ya?) Si bapak menunjukkan jarinya ke sebuah menara masjid yang terlihat jelas dari dari tempatnya. Saya pun melanjutkan perjalanan. Ketika akan sampai di masjid beberapa langkah lagi, kami disapa oleh seorang ibu dan diminta untuk mampir ke tempatnya di dekat kebun. Kami pun mampir. Seperti kafe tenda di kebun. Di sana ada beberapa wanita, sepertinya mereka sedang ngumpul-ngumpul. Saya merasa curiga dan melihat sekeliling. Si ibu juga bertanya beberapa hal. Pertanyaan standar, seperti asal dari mana? Sedang apa di sini? Si ibu menawari minum çay (teh dalam bahasa Turki) dan makan gözleme (semacam roti bundar tipis yang berisi kentang rebus atau keju putih dengan parsley atau bayam). Saya bertanya dalam hati, “ini benar-benar nawarin atau….?” Pandangan saya tertuju pada sebuah (semacam) balliho yang terpajang di dekat pintu masuk tempat ini. Di baliho tersebut tertulis çay, gözleme, dll. “Ohhhh ternyata si ibu ini berjualan rupanya,” gumamku dalam hati. Untung saya belum mengiyakan tawarannya. Kalau iya, nanti di akhir kunjungan saya ditagih dong. :D

Pintu masuk Masjid Minareli

Bukannya ogah jika diminta membayar, karena saya dan anak memang sudah membawa perbekalan untuk perjalanan ini, sebagai antisipasi agar tidak jajan, karena kami tahu kalau jajan di tempat wisata biasanya harganya lebih mahal. Jadi kami membawa perbekalan di tas kami masing-masing. Ada beberapa kafe semacam ini di daerah Tophane. Saya pun berpamitan pada ibu tersebut dan semuanya yang ada di sana, dan melanjutkan perjalanan ke masjid Tahta Minareli. Benar-benar menaranya terbuat dari kayu murni, tidak ada semennya. Masjidnya kecil. Sayang tidak bisa masuk ke dalamnya. Hanya bisa masuk ke halamannya saja. Menurut literatur yang ada, masjid ini dibangun pada tahun 1173. Berarti masjid ini lebih tua dari Andızlı camii, sekaligus merupakan masjid tertua di Alanya. Tapi belum diketahui pada jaman kerajaan apa masjid ini dibangun, karena Selçuk masuk ke Alanya pada tahun 1200-an. (Dian Akbas/LiputanIslam.com)

Link: http://liputanislam.com/traveling/catatan-perjalanan-di-turki-tersesat-di-labirin-tophane/


Comments

Popular posts from this blog

Tips Backpacker Aman di Turki untuk Para Cewek

Menikah di Turki

Kejutan Malam