Uang Hilang di Sekolah

Di tong sampah ini amplop putih berisi uang itu ditemukan


Kemarin pulang sekolah, Emine ngangis sambil bilang uang untuk bayar jemputan hilang. Mendengar itu tentu saja saya marah tapi tidak saya luapkan kemarahan itu karena tidak akan menyelesaikan masalah. Saya coba untuk menenangkan Emine terlebih dahulu. Saya bilang pada Emine untuk tidak menangis dan menjelaskan apa yang terjadi. Emine pun menjelaskan kronologinya bla bla bla. 

Saya minta Emine ganti baju dan salat ashar dulu, saya pun begitu salat ashar dulu. Setelah sama-sama selesai salat, saya minta Emine mengosongkan tasnya. Lalu dengan hati-hati semua buku-buku yang ada saya buka siapa tahu terselip di sana. Semua saku-saku yang ada di tas pun dengan hati-hati digeledah. Dan semua saku yang ada di baju dan jaket pun digeledah tapi semua nihil.

Kemudian saya menelpon suami untuk memberitahukan bahwa uang 100 TL untuk membayar jemputan hilang di sekolah. Emine menceritakan kejadian tersebut pada ayahnya. Suami bilang agar besok saya ke sekolah untuk mencarinya. Saya pun langsung ke dapur untuk menggoreng sigara borek karena jadi lapar :D

Ketika sedang menggoreng, suami kembali menelpon. Ia bilang bahwa barusan ia menelpon gurunya. Gurunya bilang tadi Emine di sekolah meminta ijin untuk membayar jemputan. Nahhhh di sini kami curiga pada Emine. Lalu kembali Emine diintrogasi. Ayahnya pun menyuruh kami untuk pergi ke sekolah sekarang juga dan mencari uang itu. Kami pun segera mengganti baju. Sambil menunggu bus yang akan lewat, saya bereskan dulu urusan menggoreng dan saya makan dech itu 4 biji sigara borek. Lalu kami meluncur ke bawah untuk menunggu bus di halte dekat rumah.

Sepanjang jalan saya berdoa, jika memang itu rezeki kami maka uang itu akan kami temukan. Bismillah...

Sesampainya di sekolah, kami langsung menuju kelas di lantai 2. Di lantai tidak terlihat adanya amplop putih, lantai bersih habis disapu sepertinya. Dilihat semua kolong dan laci meja tidak ada tanda-tanda amplop putih itu. Saya korek tong sampah di sudut kelas dengan menggunakan payung, tidak ada amplop di tong sampah itu, yang ada hanya tisu-tisu bekas. Lagian bisa dilihat tanpa dikorek pun karena sampahnya hanya sedikit. 

Kami keluar gedung. "Tadi ke kantin ga?" tanya saya. Emine pun mengiyakan pertanyaan itu. Lalu kami menuju kantin. Tapi di sekitar kantin tidak terlihat adanya amplop putih. Di halaman terdapat dua tong sampah warna hijau. Saya curiga dengan tong sampah itu. Satu per satu kami lihat tong sampah itu. Emine bersikeras bahwa ia tidak membuang sampah di tong sampah itu. Tadinya kami akan segera keluar, tapi saya keukeuh ingin mengorek tong sampah itu. Salah satu tong sampah terlihat lebih sedikit sampahnya, hati saya berkata untuk mengorek tong sampah yang sedikit sampahnya itu. Dan di sana selain sampah plastik, terdapat satu kertas putih. Saya curiga dengan kertas putih itu. Saya korek sampah itu dengan membalikan kertas putih tersebut. Ternyata kertas putih itu adalah amplop yang kami cari. Ketika dibalikan, di kertas itu bertuliskan Emine Akbas. Karena kertas basah dan membuatnya tembus pandang terlihat uang kertas 10 TL di dalamnya. Yang mana di dalamnya terdapat 1 lembar 50 TL, 2 lembar 20 TL, dan 1 lembar 10 TL. Alhamdulillah ya Allah ternyata ini memang rezeki kami yang halal. Saya tidurkan tong sampah itu dan saya tarik amplop tersebut dengan payung. Lalu Emine pun mengambilnya.

Setelah cuci tangan di kran dekat kantin, kami pun pulang ke rumah berjalan kaki. Tak henti saya mengucap syukur kepada Nya. Ini menjadi pelajaran buat saya untuk tidak mengamanatkan uang sebesar ini pada Emine lagi di kemudian hari. Sebelumnya memang tidak pernah kehilangan. Jika tidak neneknya yang memberikan uang jemputan ini, maka Emine lah yang memberikannya. Guru nya pun bilang untuk memberikan kepercayaan pada anak. Uang sekolah pun suka Emine yang setor pada gurunya. Memang sudah harus terjadi seperti ini. 

Tidak mudah untuk mendapatkan uang 100 TL. Sebagai pelayan toko freelance aja bayarannya 30 TL per hari, maka untuk mendapatkan 100 TL ia harus bekerja 3-4 hari. Sama halnya dengan pekerja musiman yang bekerja di kebun, seperti kebun musmula. Mereka dibayar 30-40 TL per hari. Jadi ayahnya berpesan pada Emine untuk bisa menjaga apa yang dimilikinya.

Akhirnya tadi pagi saya berikan sendiri uang itu pada pemilik mobil jemputan.

Kronologi kejadian:
- Sehabis istirahat siang di rumah, saya kasih uang 100 TL yang dimasukan amplop putih yang dibawa Emine.
- Emine akan memberikan ke supir tapi ga jadi karena ia dan beberapa teman diturunkan di dekat sekolah untuk naik mobil yang lain, langsung amplopnya dimasukin ke tas.
- Pada saat istirahat ia minta ijin pada gurunya untuk memberikan uang tersebut.
Ketika uang akan diberikan dan merogoh saku yang ternyata tidak ada, maka ia merasa kalo uang ketinggalan di tas. Lalu ia kembali ke kelas untuk mengambil uang di tas yang ternyata tidak ada. Jadi ia pikir uangnya hilang di kelas

Kemungkinan:
Pada saat istirahat ia minta ijin pada gurunya untuk memberikan uang tersebut. Kemungkinan besar ia taro di saku dan terjatuh. Ketika uang akan diberikan dan merogoh saku yang ternyata tidak ada, maka ia merasa kalo uang ketinggalan di tas. Lalu ia kembali ke kelas untuk mengambil uang di tas yang ternyata tidak ada. Jadi ia pikir uangnya hilang di kelas padahal tadi tidak terasa kalo uangnya terjatuh di halaman sekolah. Orang yang menemukan amplop di halaman sekolah pasti menyangka itu adalah sampah kertas biasa. Dalam keadaan kering amplop putih itu tidak tembus pandang jadi tidak kelihatan ada uang di dalamnya. Jadi orang yang menemukan itu membuangnya ke tong sampah.


Comments

  1. alhamdulillaah masih rizqinya ya. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. betuk Mak @Istiadzah Rohyati, kalo sudah rezekinya pasti ketemu. Alhamdulillah :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Backpacker Aman di Turki untuk Para Cewek

Bundel Revisi yang Raib

Menikah di Turki