Menyambungkan Polisi Turki dan TKI Ilegal

Artikelku di Tribun Jabar edisi cetak 24 April 2011


*******************

Menyambungkan Polisi Turki dan TKI Ilegal


Jumat (8 April 2011), saya mendapat telepon dari kantor Direktorat Keamanan Alanya (Emniyet Mudurlu─ču, tapi kantor ini suka disebut kantor polisi) untuk datang ke sana guna membantu mereka untuk menjadi penterjemah. Pertama pihak Emniyet menelpon saya ke rumah, tapi karena setiap Jumat saya membantu suami di toko jadi oleh ibu mertua diberi nomor telepon toko dan mereka pun menelpon ke toko.


Menjelang sore suami menerima telepon dari kantor polisi tersebut. Dengan singkat mereka menjelaskan perkaranya dan meminta saya untuk datang kesana untuk membantu mereka. Beberapa saat setelah telepon tersebut saya pun dijemput oleh seorang polisi dengan menggunakan mobil sipil. Kami pun pergi menuju kantor Emniyet.


Disana saya dipertemukan dengan 4 orang wni asal Bali. Mereka adalah tenaga kerja ilegal yang bekerja di sebuah spa. Mereka ditangkap hari itu di spa tempat mereka bekerja, karena diketahui bahwa mereka adalah pekerja ilegal. Lalu mereka dibawa ke kantor Emniyet Alanya. Ketika akan diinterogasi terdapat kesulitan bahasa yang mana para pekerja tersebut minim dalam bahasa Turki dan bahasa Inggris. Tapi ada salah satu dari mereka yang menurut saya bagus bahasa Inggrisnya. Dan pihak Emniyet, mereka tidak bisa berbahasa Indonesia dan juga mereka minim dalam bahasa Inggris. Jadi sudah pasti mereka tidak akan nyambung untuk urusan interogasi.


Pihak Emniyet lalu mencari di database mereka mengenai daftar wni yang ada di Alanya. Mereka menemukan saya di list tersebut karena hanya saya wni yang menetap di Alanya. Lalu mereka pun menghubungi saya.


Alhamdulillah, saya bisa membantu mereka menjadi penterjemah hari itu. Kasihan mereka sudah menjadi korban dan bukan tidak mungkin jika mereka tidak ditangkap oleh polisi, hal-hal buruk lainnya dapat menimpa mereka seperti menjadi korban human trafficking.


Pihak Emniyet mewanti-wanti saya untuk meyakinkan mereka agar mau dipulangkan ke Indonesia. Karena sebetulnya mereka sudah menjadi korban dan pihak Emniyet hanya ingin membantu mereka. Saya pun menyampaikan hal itu pada mereka tapi mereka tetap ingin bekerja di Turki karena mereka akan menanggung malu jika pulang ke kampung halaman. Saya pun menyampaikan keinginan mereka pada pihak Emniyet, tapi pihak Emniyet bilang bahwa mereka hanya melakukan tugas mereka untuk dapat memulangkan 4 pekerja itu ke tanah airnya.


Kenapa mereka malu jika dipulangkan ke tanah air? Alasan utama adalah uang. Untuk bisa bekerja di Turki mereka harus membayar sebesar 10 juta rupiah. Mereka diajak oleh seorang wanita Bali sebut saja ibu X. Ibu X meminta mereka untuk membayar uang sebesar itu agar mereka dapat bekerja di Turki. Mereka pun membayar uang itu dengan jalan meminjam atau hutang dari orang lain. Lalu mereka pun dapat datang dan bekerja di Turki berbekal visa turis 90 hari. Padahal untuk bekerja legal di Turki diperlukan visa kerja, sedangkan mereka hanya diuruskan visa turis yang sudah tentu tidak mempunyai hak untuk bekerja.


Sesampainya di Turki pada bulan Januari 2011, mereka dipekerjakan di sebuah spa (sebagai tenaga pijat) di daerah Alanya. Mereka digaji 300 dolar per bulan dan komisi 3 dolar untuk setiap orang yang mereka pijat. Satu bulan pertama mereka tidak dibayar sepeserpun karena boss nya bilang bahwa sebulan itu adalah tahap training. Bulan berikutnya mereka diberi gaji dan komisi tetapi bulan-bulan berikutnya tidak dibayarkan. Ada satu orang dari mereka yang mendapat gaji dua kali.


Sudah dengan gaji yang sangat minim, tidak dibayarkan pula. Dengan melihat jumlah gaji 300 USD mungkin terlihat besar untuk ukuran gaji di Indonesia. Tapi untuk hidup di Turki, uang sebesar itu tidak cukup. Bisa dibilang gaji 300 USD di Turki sama saja dengan gaji 300 ribu rupiah di Indonesia. Jadi jangankan mereka dapat mengirimkan uang untuk keluarga di kampung, untuk mereka hidup disini pun tidak cukup.


Kembali ke masalah pemulangan mereka. Jika mereka pulang otomatis mereka tidak punya uang. Gaji yang belum dibayarkan katanya akan diusahakan untuk diminta kepada boss mereka. Jika berhasil pun belum cukup untuk membayar hutang mereka sebesar 10 juta rupiah sebagai modal awal mereka. Dan apa yang akan dikatakan kepada orangtua mereka. Tidak mungkin jika mereka mengatakan hal sebenarnya pada orangtua mereka. Itulah mengapa mereka tidak ingin pulang.


Saya merasa iba kepada 4 wni ini dan juga saya merasa malu karena keadaan Indonesia seperti ini. Sewaktu interogasi berlangsung kami disana tidak merasa dalam suasana interogasi. Karena pihak Emniyet pun hanya ingin membantu jadi memperlakukan mereka seperti orang asing lainnya yang memerlukan pertolongan bukan sebagai tahanan. 4 wni asal Bali pun merasa senang bisa dibantu oleh saya dan mereka bisa tertawa saat itu berbeda sebelumnya ketika saya belum datang. Mereka diberi makan oleh pihak Emniyet karena sepertinya dari pagi mereka belum makan. Dan kami pun disuguhi teh dan biskuit.


Mereka bilang “mba kami tuh sekarang bisa ketawa, tapi di hati tetap aja sedih”. Kesedihan pasti ada di hati mereka. Bagaimanapun mereka telah tertipu. Entah kapan mereka akan dipulangkan. Karena setelah introgasi selesai kami pun berpisah. Saya diantarkan kembali oleh dua orang polisi sipil, sedangkan mereka akan menjalani tes kesehatan lalu akan dibawa ke Emniyet Antalya (ibukota provinsi Antalya, Alanya adalah bagian dari Antalya). Disana mereka akan di tempatkan di guest house kepolisian hingga saatnya mereka dipulangkan. Waktu kepulangan pun tergantung dari kapan boss mereka akan memberikan tiket pulang bagi mereka karena biaya kepulangan mereka dibebankan pada si pemberi kerja. Saya harap mereka dapat secepatnya pulang ke Indonesia dan tentunya gaji mereka pun dibayarkan terlebih dahulu.


Hal seperti ini pun pernah terjadi di kota lain di Turki, yaitu di Konya. Teman saya di sana sama seperti saya diminta bantuan untuk menjadi penterjemahnya.


Memang sayang sekali, masih ada orang-orang yang memanfaatkan orang lain untuk memperkaya diri sendiri. Sudah sewarjarnya ibu X dan sindikatnya diberantas, karena ini menyangkut keselamatan warga Indonesia dan juga harga diri negara Indonesia.


Alanya, 9 April 2011

Dian Akbas

Comments

  1. Selam Dian,
    Saya numpang baca tulisanmu di sini.. Simpati dgn 4 org WNI tersebut. Ya, sindiket spt itu harus dibanteras, kasihan mereka yg tertipu..

    ReplyDelete
  2. thx ayza sudah membacanya. ya betul kasihan sekali mereka sudah tertipu. memang betul sindikat seperti itu harus diberantas

    ReplyDelete
  3. Teh Iyan..
    Karunya pisan.
    Ternyata Humantraffick TKI dah sampai sana ya teh..
    Duh Gustiii..

    ReplyDelete
  4. Sepertinya senada dengan cerita yuana, mungkin ibu Xnya tuh sama orangnya. BTW dirimu tidak punya no telp mereka ta ? ato informasi yg lebih lengkap gitu. kayak asal mereka tuh dari bali daerah mana, terus si ibu X tadi dia kenal lewat mana dll, kalo ada boleh tuh dian kirim inbox ke aku :D, mo jadi detektif. kalo mo ngeberantas bukan di ujungnya tapi seharusnya di pangkalnya sini.

    ReplyDelete
  5. muhun ceu karunya pisan, pengen kerja kalahkah ditipu

    ReplyDelete
  6. aku ga tau info lengkap ttg mereka dri. ntar aku inbox sesuatu ke kamu yah

    ReplyDelete
  7. wah.. karunya nya udah di negeri antah berantah..kekurangan..ditipu deui..duh tapi bagaimanapun juga pulang lebih baik lah, untung jatuhna polisi baik2 waduh kalo kena human traficing kumaha..semoga masalahna cepet selesai nya

    ReplyDelete
  8. enya karunya pisan. duka tah kumaha kelanjutannya. mudah2an mah udah dipulangkan

    ReplyDelete
  9. Semoga semuanya berjalan lancar dan mereka mendptkan yg terbaik. amin. Mb Dian thks for share :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Backpacker Aman di Turki untuk Para Cewek

Bundel Revisi yang Raib

Menikah di Turki