Aku, Turki, dan Keragamannya

Tahun 2005 adalah pertama kalinya untukku pergi keluar negeri dan langsung menetap di sebuah negeri perbatasan benua Eropa dan Asia. Ya, Turki-lah negara perbatasan itu. aku pernah memimpikan untuk berkunjung ke negara ini, sekarang itu telah menjadi kenyataan. pernikahanlah yang membawaku ke negeri ini, karena suamiku seorang Turki.

Sebelumnya aku tidak banyak tahu tentang kehidupan di negara Turki. aku hanya tahu bahwa penduduk Turki mayoritas islam. Aku pun tidak tahu bagaimana pakaian wanita Turki jika melaksanakan salat. Apakah seperti di Indonesia mengenakan mukena? karena aku sudah terbiasa membawa mukena ketika bepergian, maka ketika pergi ke Turki pun aku tak lupa membawa mukena. Ternyata setelah sampai di Turki, barulah aku tahu bahwa wanita Turki tidak mengenakan mukena jika melaksanakan salat tapi mereka hanya mengenakan pakaian yang dipakainya saat itu. Untung saja aku telah persiapkan mukena, karena aku merasa tidak nyaman jika salat tanpa menggunakan mukena.

Ketika aku berkunjung ke rumah kerabat disini, aku bawa mukena untuk persiapan jika waktu salat tiba. Aku bawa mukena berbahan parasut yang dikemas dengan tas kecil jadinya praktis masuk di tas. Ketika aku salat memakai mukena, orang-orang yang ada di sekitarku ingin mengetahui apa yang aku pakai itu. Ingin memegangnya, ingin mencoba memakainya. aku pun memperlihatkan dan memberikan kesempatan kepada mereka yang ingin mencobanya. Jika di antara mereka ada yang sudah pergi haji, mereka tahu mukena. karena jemaah haji Indonesia (wanita) memakai mukena ketika salat. 

Dalam hal jilbab, Turki mempunyai jilbab/kerudung tradisional yang namanya yazma. ketika suamiku dulu datang ke Indonesia (dulu masih calon), ia membawa tiga yazma (dari ibunya) sebagai hadiah untukku. Yang mana itu merupakan tradisi di Turki, mertua memberikan yazma (dengan renda yang drajutnya sendiri) pada menantunya. aku senang dengan hadiah yazma itu. Ketika sampai di Turki, aku mendapatkan yazma lebih banyak lagi pemberian dari kerabat suami. Pertamanya aku suka memakai yazma tapi lama kelamaan bosan juga. daripada yazma-yazma itu tidak terpakai, jadi  kuberikan saja sebagian yang kupunya pada kerabat di kampung halaman. karena aku lebih nyaman memakai jilbab praktis bawaanku dari Indonesia.

Dalam keseharian atau pun bepergian aku selalu memakai jilbab praktis berbagai model. Orang-orang yang melihatku akan otomatis tahu kalau aku adalah orang asing. Selain karena memang wajahku bukan wajah Turki dan juga karena jilbab yang dipakai olehku bukanlah jilbab Turki dan tidak ada dijual disini. Banyak yang suka dengan jilbab praktis ini. Karena memang praktis dan modelnya pun bagus-bagus. 

Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Turki, aku ingin mengenalkan apa yang menjadi ciri baik dari Indonesia. Meskipun aku berbaur dengan orang Turki dan beradaptasi dengan tradisi yang ada, tidak berarti aku harus meninggalkan ciri-ciri Indonesia-ku. Aku ingin tetap dikenal sebagai orang Indonesia karena memang aku adalah orang Indonesia.

*****


tulisan ini diiikutsertakan pada writing contest dari pesta blogger 2010


Comments

  1. Pengen tahu bentuknya yazma mbak...tulisannya bagus mbak,semoga menang ya

    ReplyDelete
  2. Tulisannya bagus banget..semoga menang ya mbak..pengen tahu bentuknya yazma :)

    ReplyDelete
  3. terima kasih mba :) bentuk yazma seperti kerudung biasa yang segi empat tapi yazma ada renda di pinggirannya. gambarnya bisa dilihat disini: http://yazma-house.blogspot.com/

    ReplyDelete
  4. Mbak,tulisan2nya keren..
    *tadi baca beberapa..

    salam ukhuwah

    ReplyDelete
  5. Sudah bisa bahasa Turki, mbak ? :)

    ReplyDelete
  6. kapan2 ajarin bahasa Turki dong,Mbak..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips Backpacker Aman di Turki untuk Para Cewek

Bundel Revisi yang Raib

Menikah di Turki